When was the last time you slept with your Mom?
Pernah suatu hari ...
Saat aku pergi kondangan lanjut main, pulang sampai malam, tak larut menurutku ... kurang dari jam sembilan. Sampai rumah, kubuka pintu. Kulihat ibuku di depan televisi. "Hapemu kenapa, kok ngga kasih kabar?" tanya ibu. "Maaf ibuk, aku lupa" jawabku. Saat aku membersihkan diri, kudengar ibu berjalan ke dapur sambil berkata dengan helaan nafas panjang "akhirnya aku sudah bisa makan ...." Pernah suatu hari ... ibu menasihatiku "adek jangan makan mie terus. Makan yang sehat, ganti-ganti menunya. Siapin cemilan." Dan saat aku asyik nonton bola sampai malam tiba-tiba ia menengokku sambil bertanya "ade ngga ada cemilan. Mau ibuk buatin mie?" sambil mengerutkan dahi aku menggeleng.
Pernah suatu hari ...
Saat aku hendak pulang tapi mundur sehari. Kulihat sisa makanan favoritku di meja. Kubertanya 'lhoh, kemarin ibuk masak daun pepaya?" dengan tersenyum ia menjawab "iya, tak kira adek pulang."
Pernah suatu hari ...
Saat aku hendak tidur. Ibu masih asyik menonton televisi. "Ibuk, pelankan suaranya ya ... Ibuk belum ngantuk." Sambil mendengarkan musik aku berusaha tidur, kupejamkan mataku. Beberapa kali ibu mengecek selimutku katanya "bobok kok ngga pernah pakai selimut. Ada nyamuknya ngga ini ... "kurasakan betul ibu mengecek badanku dari kaki sampai kepalaku laluu keluarlah bulir-bulir air dari sudut mataku.
Pernah suatu hari ...
Sehabis shubuh ibu biasa menasihatiku agar jangan kembali tidur, diajaknyalah aku jalan pagi. Tapi saat aku kembali tidur, tiba-tiba ia sudah di sampingku, memelukku "yasudah tidur lagi saja ...' katanya.
Pernah suatu hari ...
Saat aku mau pergi, ke manapun itu ... ibu selalu membaca Al - Fatihah untukku setelahnya ia berdo'a "Ya Allah ... selamatkan anakku di perjalanan sampai tujuan dengan selamat" dan ia belum beranjak dari posisinya sampai aku hilang dari pandangannya.
Pernah suatu hari ...
Ibu meneleponku dan bertanya "kapan ujianmu? Ibu mau puasa."
Pernah suatu hari ...
Saat di rumah sakit, ibu menelepon dan berkata "maaf ya dek, ibu tidak bisa merawatmu. Ibu pasti berdosa sekali ini." Dan aku? diam membisu. Tiba-tiba kelu lidahku.
Pernah suatu hari ...
Saat hal buruk terjadi padaku. Ibu berkata sambil menahan tangisnya "seharusnya kamu tetap di perut ibu, biar ibu bisa membawamu ke mana-mana."
Pernah suatu hari ...
Aku berdo'a "Ya Allah ... aku memohon padaMu untuk memberikan aku dan ibuku kesempatan untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersama. Berjalan bersama. Tidur bersama. Makan bersama. Beribadah bersama." Dan Allah mengabulkan itu. Saat itu menjadi saat yang paling indah dalam sepanjang umurku.
Pernah suatu hari ...
Aku menelepon ibu di hari ibu. Dengan semangat suaranya menyapaku sambil berkata "ini hari ibu ..." ada jeda di ujung suaranya "maafkan ibu, ibu ninggal-ninggal kamu ..." jeda kembali membantuku menata kata "ndakpapa ibu. Semoga ibu sehat selalu ..." setelahnya seperti biasa, dibalasnya ku dengan serentetan do'a ... kuatur nada suaraku sebelum sebuah kata "aamiin" berhasil keluar dari bibirku. Hari itu hari di mana dua wanita yang tak lagi remaja saling menahan tangis bersama di udara ... drama ...
*berbahagialah kamu yang dapat menjadi a full-time mother bagi anakmu. Sejatinya engkau, wanita, dibahagiakan dengan tanggung jawab itu. Itulah sura duniamu. Karena pilihan tersulit bagi wanita adalah saat ia harus meninggalkan anaknya, kuarasa. Ibu rumah tanggabukan sekadar 'hanya."
Selamat hari ibu.
Saat aku pergi kondangan lanjut main, pulang sampai malam, tak larut menurutku ... kurang dari jam sembilan. Sampai rumah, kubuka pintu. Kulihat ibuku di depan televisi. "Hapemu kenapa, kok ngga kasih kabar?" tanya ibu. "Maaf ibuk, aku lupa" jawabku. Saat aku membersihkan diri, kudengar ibu berjalan ke dapur sambil berkata dengan helaan nafas panjang "akhirnya aku sudah bisa makan ...." Pernah suatu hari ... ibu menasihatiku "adek jangan makan mie terus. Makan yang sehat, ganti-ganti menunya. Siapin cemilan." Dan saat aku asyik nonton bola sampai malam tiba-tiba ia menengokku sambil bertanya "ade ngga ada cemilan. Mau ibuk buatin mie?" sambil mengerutkan dahi aku menggeleng.
Pernah suatu hari ...
Saat aku hendak pulang tapi mundur sehari. Kulihat sisa makanan favoritku di meja. Kubertanya 'lhoh, kemarin ibuk masak daun pepaya?" dengan tersenyum ia menjawab "iya, tak kira adek pulang."
Pernah suatu hari ...
Saat aku hendak tidur. Ibu masih asyik menonton televisi. "Ibuk, pelankan suaranya ya ... Ibuk belum ngantuk." Sambil mendengarkan musik aku berusaha tidur, kupejamkan mataku. Beberapa kali ibu mengecek selimutku katanya "bobok kok ngga pernah pakai selimut. Ada nyamuknya ngga ini ... "kurasakan betul ibu mengecek badanku dari kaki sampai kepalaku laluu keluarlah bulir-bulir air dari sudut mataku.
Pernah suatu hari ...
Sehabis shubuh ibu biasa menasihatiku agar jangan kembali tidur, diajaknyalah aku jalan pagi. Tapi saat aku kembali tidur, tiba-tiba ia sudah di sampingku, memelukku "yasudah tidur lagi saja ...' katanya.
Pernah suatu hari ...
Saat aku mau pergi, ke manapun itu ... ibu selalu membaca Al - Fatihah untukku setelahnya ia berdo'a "Ya Allah ... selamatkan anakku di perjalanan sampai tujuan dengan selamat" dan ia belum beranjak dari posisinya sampai aku hilang dari pandangannya.
Pernah suatu hari ...
Ibu meneleponku dan bertanya "kapan ujianmu? Ibu mau puasa."
Pernah suatu hari ...
Saat di rumah sakit, ibu menelepon dan berkata "maaf ya dek, ibu tidak bisa merawatmu. Ibu pasti berdosa sekali ini." Dan aku? diam membisu. Tiba-tiba kelu lidahku.
Pernah suatu hari ...
Saat hal buruk terjadi padaku. Ibu berkata sambil menahan tangisnya "seharusnya kamu tetap di perut ibu, biar ibu bisa membawamu ke mana-mana."
Pernah suatu hari ...
Aku berdo'a "Ya Allah ... aku memohon padaMu untuk memberikan aku dan ibuku kesempatan untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersama. Berjalan bersama. Tidur bersama. Makan bersama. Beribadah bersama." Dan Allah mengabulkan itu. Saat itu menjadi saat yang paling indah dalam sepanjang umurku.
Pernah suatu hari ...
Aku menelepon ibu di hari ibu. Dengan semangat suaranya menyapaku sambil berkata "ini hari ibu ..." ada jeda di ujung suaranya "maafkan ibu, ibu ninggal-ninggal kamu ..." jeda kembali membantuku menata kata "ndakpapa ibu. Semoga ibu sehat selalu ..." setelahnya seperti biasa, dibalasnya ku dengan serentetan do'a ... kuatur nada suaraku sebelum sebuah kata "aamiin" berhasil keluar dari bibirku. Hari itu hari di mana dua wanita yang tak lagi remaja saling menahan tangis bersama di udara ... drama ...
*berbahagialah kamu yang dapat menjadi a full-time mother bagi anakmu. Sejatinya engkau, wanita, dibahagiakan dengan tanggung jawab itu. Itulah sura duniamu. Karena pilihan tersulit bagi wanita adalah saat ia harus meninggalkan anaknya, kuarasa. Ibu rumah tanggabukan sekadar 'hanya."
Selamat hari ibu.
Comments
Post a Comment