Posts

Showing posts from May, 2020

3 Pemenang Kehidupan

Beberapa hari setelah terpilih menjadi perwakilan lomba, Julvri, Liben, dan Cit rutin mengunjungi rumahku untuk berlatih bersama. Kubuatkan jadwal tentang penggunaan alat perekam yang hanya satu jumlahnya. Setiap anak mendapat kesempatan membawa pulang alat perekam itu selama 2 hari sekali. Aku merekam cerita untuk Julvri, merekam kumpulan kosa kata sesuai tema lomba untuk Liben, dan merekam puisi untuk Cit. Ketiganya berlatih dengan semangat. Hari demi hari kami lalui dengan penuh harapan bahwa kami akan membawa pulang piala kemenangan. Se ja k mendengar Julvri, Liben, dan Cit akan mengikuti lomba bahasa Inggris, orang tua mereka pun rajin mengunjungiku. Mereka bahkan selalu memberiku beraneka ragam hasil pertanian. Suatu hari Ayah Julvri membawakan berkilo-kilo beras, ibu Liben membawakan sayur-sayuran, dan Ayah Cit membawakan buah-buahan. Sungguh mengharukan. Di sela-sela berlatih terkadang aku mengamati Julvri, Liben, dan Cit. Betapa keras usaha mereka dalam belajar. Seakan m...

Dalam Dekap Ayah

         Setelah lomba usai, pelajaran bahasa Inggris menjadi incaran bagi para orang tua. Mereka berbondong-bondong mengantarkan anak mereka ke rumahku, memintaku untuk mengajari anak mereka bahasa Inggris. Awalnya aku sendiri merasa tertantang untuk menerima semua anak yang datang. Kubuatkan jadwal selepas pulang sekolah dari Senin-Sabtu. Tapi akhirnya aku kewalahan juga. Beberapa hari aku sempat sakit karena kurang istirahat. Bapak Riu yang mengerti kondisiku menyarankanku untuk mengambil libur beberapa hari dulu. Akupun menuruti nasehatnya.         Setelah sembuh aku putuskan untuk berbagi tugas dengan Julvri, Liben, dan Cit. Aku memberikan training khusus mereka agar bisa menjadi pengajar tahap dasar. Aku meminta mereka mengamati kelas-kelas yang kuadakan. Membekali mereka dengan pengetahuan seputar pengajaran. Tentu dengan cara yang lebih mudah dimengerti, kusederhanakan penjelasan agar mudah dipraktikkan. Keputu...

Julvri dan Semangatnya

K elas- kelas selanjutnya berjalan dengan meriah. Aku menggunakan berbagai macam cara untuk menyampaikan materi yang ingin dipelajari. Kadang kami bernyanyi bersama, bermain peran, kubacakan mereka cerita pendek dan puisi. Kuizinkan mereka berekpresi dan bereksplorasi. Terkadang aku dibuat terkejut oleh kemampuan mereka dan kadang merasa kecewa juga karena hasil pembelajaran yang didapat tidak sesuai ekspektasi.  Setiap anak memiliki ketertarikan yang berbeda. Beberapa sangat tertarik dengan kegiatan menyanyi. Beberapa sangat aktif dalam bermain peran. Beberapa tertarik dengan membaca cerita, salah satunya Julvri.  Sejak pertama kali aku membacakan cerita pendek di kelas, Julvri paling antusias mendengarkan. Bahkan sesekali kulihat seperti menirukan ekspresiku dan mimikku dalam bercerita. Saat ditanya iapun bisa menjawabnya. Tentu masih dengan menggunakan bahasa Indonesia. Namun aku tetap mengapresiasinya.  Suatu hari saat aku berjalan pulang dari sekolah, Julvri...

10 Jari Tangan Julvri

Akhirnya hari yang ditunggu tiba. Pagi-pagi sekali kami bersiap berangkat ke tempat lomba. Diantar oleh Bapak Riu dengan mobil tuanya. Dalam menempuh perjalanan selama 2 jam, aku sarankan pada Julvri, Liben, dan Cit untuk istirahat, bersantai. Namun nasehat itu seakan hanya dianggap lalu. Masing-masing sibuk menghafalkan dan mempelajari kembali bagian mereka dalam lomba. Aku mengerti. Kusemangati mereka sesekali. Sampai di tempat lomba, peserta sudah banyak yang berdatangan. Terlihat wajah antusias dari para pengantar, sebaliknya terlihat wajah gugup para peserta. Satu-persatu mulai masuk ruang lomba untuk registrasi. Begitu juga dengan Julvri, Liben, dan Cit. Masing-masing lomba ditempatkan di ruang berbeda. Lomba story telling ada di ruang 1, spelling bee ada di ruang 2, dan membaca puisi berbahasa Inggris ada di ruang 3.  Lombapun dimulai. Para pengantar atau pemdamping dapat melihat performa dari peserta di ruangan namun dibatasi jumlahnya. Aku berbagi tugas dengan Bapak...

3 Pejuang

Semenjak aku memberikan tantangan pada Julvri, ia datang setiap 2 hari sekali. Sejauh ini ia dapat menyelesaikan setiap tantangan dengan baik meski beberapa kali ia juga gagal. Jika ia tidak berhasil mengucapkan dan menuliskan kosa kata yang didapat, aku memberlakukan hukuman yaitu tidak mendengarkan cerita baru dariku. Ia tampak kecewa tentu saja. Tapi aku sudah bertekad untuk mengajarkan kedisiplinan padanya. Agar semangatnya tetap pada tempatnya. Setelah pulang sekolah Pak Riu meminta bertemu denganku. Aku diminta menunggu beliau di ruangannya.  “Bu Guru Lila … aduh … Miss Lila” panggilnya dengan mengernyitkan dahinya. Bapak Riu memang tampak susah payah memanggilku dengan selain panggilan ‘Bu Guru’, mungkin karena beliau memanggil semua guru wanita dengan Bu Guru. Sejujurnya aku merasa tidak enak juga.  “Begini Miss Lila. Akan ada lomba bahasa Inggris antar sekolah tingkat kabupaten. Lombanya ada 3, yaitu: membaca puisi, story telling , dan spelling bee . Menurut M...

Aku Cinta Indonesia, Izakod Bekai Izakod Kai

Akhirnya hari keberangkatanku tiba. Aku berpamitan dengan Ayah dan Ibu sementara Tita tidak bisa mengantarku sampai bandara tapi ia sudah meneleponku sebelum berangkat kerja. Saat bertelepon, aku mendengar suaranya parau, sepertinya ia menangis. Aku mengerti. Meskipun Tita terlihat sangat ceria tapi ia tidak memiliki banyak teman dekat. Sejauh ini hanya aku dan keluargaku yang paling dekat dengannya. Ia memiliki ketakutan untuk berpisah dengan yang disayanginya.  Saat di bandara, Ibu memelukku dengan sangat erat. Itu pelukan terhangat sepanjang beberapa tahun terakhir. Kami tidak pernah berpisah dalam waktu yang lama selama ini. Sebaliknya Ayah terlihat tidak khawatir. Beliau justru menasehatiku untuk bekerja dengan baik dan berkata bahwa suatu saat aku akan mengerti. Sebenarnya aku berharap Ayah berkata “Ayah sayang sama Lila, jaga diri baik-baik ya” itu saja. Pesawat yang kunaiki akan transit di Makassar dan Jayapura. Setelah itu baru sampai di bandara Mopah, Merauke. Per...

Satu Anak Satu Harapan

Sejak memutuskan mendaftar menjadi relawan, aku sudah menyadari bahwa dalam menjalankan tugas ini aku tidak boleh setengah-setengah, meskipun aku belum seratus persen menyukainya. Aku memilih berdamai dengan rasa itu. Aku bertekad untuk berusaha sebaik mungkin sebagai guru dengan versiku. Beberapa Minggu terakhir sebelum berangkat aku membaca buku tentang teori pembelajaran, metode pengajaran, psikologi pendidikan, dan menonton banyak video pengajaran bahasa Inggris pada anak-anak di YouTube. Aku berharap semua itu bisa menjadi petunjuk dan sebagai dasar pembelajaran di kelasku, tentu dengan penyesuaian yang dibutuhkan di dalam kelas nanti.  Hari ini adalah hari pertama aku masuk kelas. Aku berencana untuk melakukan perkenalan saja. Mencoba mencari tahu background dari anak-anak di kelas. Mengetahui karakter mereka satu per satu. Aku cukup merasa gugup saat masuk kelas. Seberapapun teori telah banyak kubaca dalam praktiknya memang tetap masih ada kekhawatiran tentang keberhasil...

Jangan Panggil Aku Guru

Sebuah seri cerita yang kutulis untuk mengikuti event 14 Hari Menulis Harapan yang diselenggarakan oleh Bentang Pustaka. Ini adalah seri cerita ke 2 setelah Teman Seperjalanan Kalah Dengan Ayah, Lelah Melawan Takdir Pukul delapan pagi, alarmku berbunyi. Ini pertama kalinya setelah 2 tahun terakhir aku mengatur alarm sesiang itu. Biasanya aku atur pukul 5 pagi agar tidak telat berangkat kerja. Sebulan lalu aku keluar dari pekerjaan dan sekarang sedang menikmati hari-hari di mana aku bisa bangun siang sesukaku. Aku berusaha mematikan alarmku dengan meraba-raba letaknya di meja. Setelah berhasil mematikannya, suara lain mengusik tidurku. Ponselku berdering. “Halo …” jawabku dengan setengah tidur.  “Lila, lu beneran lolos seleksi ya? Beneran mau berangkat? Katanya lu ngga mau jadi guru?” Suara T ita terdengar berisik sekali di telingaku. Seperti suara laju kereta. “Ehmmm … aku cuma capek aja Ta” jawabku dengan mengantuk.  “Capek? Lu abis ngapain? Lari pagi? Tum...

Teman Duduk

Image
      Sabtu malam menjadi waktu yang istimewa bagi banyak orang, tidak terkecuali aku. Ada sebuah cafe yang terletak di pinggir kota tempatku bekerja. Di sana, aku bisa memesan kopi dan bebas membaca buku yang dipinjamkan gratis bagi para pengunjungnya. Karena hampir setiap Sabtu aku ke sana, mereka sudah hafal denganku. Bahkan, selalu menyiapkan spot favoritku, tentu tanpa paksaan dariku.  Spot itu terletak di pojok cafe, ada 3 kursi bundar tanpa sandaran berjejer rapi, dan jendela besar yang memungkinkanku melihat pemandangan di luar jendela. Sebenarnya jika sore tiba, aku bisa bebas menikmati senja di sana,tapi sayangnya itu bukan hal yang mudah untuk terjadi. Menikmati matahari sore menjadi hal langka bagi sebagian orang, dan aku masuk diantaranya.      "Seperti biasa ya .." ucapku pada pelayan cafe yang selalu tampak bahagia menyapa pelanggannya.      "Siap!" jawabnya singkat sambil menunjuk spot favoritku dengan i...