Dalam Dekap Ayah
Setelah lomba usai, pelajaran bahasa
Inggris menjadi incaran bagi para orang tua. Mereka berbondong-bondong
mengantarkan anak mereka ke rumahku, memintaku untuk mengajari anak mereka
bahasa Inggris. Awalnya aku sendiri merasa tertantang untuk menerima semua anak
yang datang. Kubuatkan jadwal selepas pulang sekolah dari Senin-Sabtu. Tapi
akhirnya aku kewalahan juga. Beberapa hari aku sempat sakit karena kurang
istirahat. Bapak Riu yang mengerti kondisiku menyarankanku untuk mengambil
libur beberapa hari dulu. Akupun menuruti nasehatnya.
Setelah
sembuh aku putuskan untuk berbagi tugas dengan Julvri, Liben, dan Cit. Aku
memberikan training khusus mereka agar bisa menjadi pengajar tahap dasar. Aku
meminta mereka mengamati kelas-kelas yang kuadakan. Membekali mereka dengan
pengetahuan seputar pengajaran. Tentu dengan cara yang lebih mudah dimengerti,
kusederhanakan penjelasan agar mudah dipraktikkan. Keputusanku tidak keliru,
mereka dapat mengikuti instruksi dariku dengan baik. Tugasku lebih ringan
bersama mereka.
Seminggu
lagi tugasku sebagai relawan akan selesai. Di sekolah, aku menyelesaikan
berbagai administrasi untuk dilaporkan. Bapak Riu yang telah selesai dengan
pekerjaannya menghampiri meja kerjaku.
"Bu
Guru ... eh Miss Lila ..." sapa beliau yang masih kesusahan memanggilku.
"Iya
Bapak" jawabku singkat.
"Begini
... para orang tua meminta untuk diadakan acara perpisahan untuk Miss Lila.
Kira-kira bagaimana?"
"Senang
sekali saya mendengarnya Bapak. Tapi apa tidak merepotkan?" tanyaku
meminta penjelasan.
"Tidak
Ibu eh Miss. Para orang tua dan para Guru merasa senang sekali atas kedatangan
Miss Lila di sekolah ini, rasanya tidak banyak yang bisa kami lakukan untuk
membalasnya." Kata-kata Bapak Riu terdengar hangat di hatiku.
"Bapak.
Saya menghargainya. Jika tidak merepotkan tentu saya sangat berkenan jika bisa
berkumpul bersama sebelum pulang."
"Baik
Miss Lila, akan saya atur waktunya."
"Terimakasih
Bapak Riu" jawabku dengan haru.
Bapak
Riupun pamit terlebih dahulu. Aku masih harus menyelesaikan dokumen sedikit
lagi.
Malam
perpisahan tiba. Bertempat di rumah Bapak Riu, para orang tua dan murid telah
berkumpul. Ada yang duduk di kursi dan ada yang duduk di tikar melingkar. Semua
tampak sedang berbincang sebelum aku datang. Kupandang mereka dari luar rumah
Bapak Riu. Entah kenapa kakiku terasa berat untuk melangkah. Hatiku terasa
ngilu membayangkan bahwa esok aku akan meninggalkan orang-orang yang ramah
ini.
"Selamat
datang Miss Lila" suara Bapak Riu memecah percakapan para orang tua.
Murid-murid yang sebelumnya asyik bermain berhambur mendatangiku
bersamaan.
"Iya
Bapak. Terimakasih Bapak" jawabku agak sungkan.
Para
orang tua pun bediri menyambutku. Kami bersalaman satu-persatu. Aku tidak
menyangka adegan semacam ini bakal terjadi. Betapa mereka membuatku merasa
istimewa, padahal aku jauh lebih muda. Terharu aku dibuatnya. Kupersilakan
mereka untuk melanjutkan aktivitasnya.
"Bapak
dan Ibu tidak perlu berdiri. Saya akan duduk di tikar saja agar kita bisa
bercanda" kataku mengakhiri adegan penghormatan. Acara berlajut hingga
hampir pukul 10 malam. Para orang tua bergantian memberikan kesan dan pesan
sementara anak-anak menunjuk perwakilan mengucapkan salam perpisahan. Hingga
akhirnya acara perpisahanpun ditutup oleh Bapak Riu. Lalu semua pulang
satu-persatu.
Saat
aku hendak pamit pulang, Bapak Riu memberiku sebuah kado perpisahan, yaitu
berupa kain batik khas Papua.
"Ini
kenang-kenangan untuk Miss Lila" katanya sambil menyodorkan kain batik
yang terbungkus plastik.
"Wah
... Terimakasih Bapak. Ini cantik sekali" kataku memuji.
"Iya
... Secantik hatinya Miss Lila" Bapak Riu menggoda. Seingatku ini pertama
kalinya Bapak Riu menggodaku.
"Bisa
saja ini Bapak" jawabku dengan malu.
"Miss
Lila, Terimakasih sudah menjadi Guru Bahasa Inggris yang baik untuk sekolah
kami. Saya berharap Miss Lila dapat terus mengajar di manapun berada"
pesan Bapak Riu menghentakku. Lalu beliau melanjutkan, "Miss Lila kenapa
tidak mau dipanggil Bu Guru? Waktu pertama kali Miss Lila datang itu belum
dijelaskan ke Bapak alasannya" tanya Bapak Riu menagih jawabanku.
"Saya
... tidak mau jadi Guru Bapak dan panggilan itu terasa berat di hatiku waktu
itu" jawabku.
"Lalu,
sekarang?" kejar Bapak Riu dengan pertanyaan. Aku terdiam beberapa saat.
Bapak Riu merapikan gelas dan piring yang berantakan.
"Sekarang
... " belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Bapak Riu menghampiriku
dan berkata "Bapak sudah tahu jawabannya. Tidak perlu diteruskan"
katanya dengan senyum kesabaran. Aku seperti melihat sosok Ayah dalam dirinya.
Bapak Riu kemudian melanjutkan, "hati kita terkadang butuh waktu untuk
mencintai sesuatu. Jika waktunya telah tiba, maka tugas selanjutnya adalah
menjaganya" kata-kata Bapak Riu menenangkanku, menutup malam terakhirku
dengan nasehatnya seputar hati.
Sampai
rumah, aku mengecek kembali barang-barang yang akan kubawa pulang esok hari.
Belum juga pulang, aku sudah merasa ada yang hilang. Kuamati isi rumah.
Terlintas wajah anak-anak sedang belajar dengan tawa di teras, wajah Julvri,
Liben, dan Cit yang berlatih lomba. Semua kubungkus rapi dan kumasukkan ke
dalam kotak kenangan di kepala.
Keesokannya
Bapak Riu menjemputku. Disusul Liben dan Cit yang membawakan aku camilan buatan
orang tuanya. Aku tidak melihat Julvri. Mungkin ia sedang membantu orang tuanya
berdagang gumamku dalam hati. Liben dan Cit bergantian memelukku, erat sekali.
Kutitipkan pesan agar mereka terus belajar dan membagi kemampuan Bahasa Inggris
mereka pada yang lainnya. Mereka menyanggupi.
Saat
Bapak Riu memasukkan barang bawaanku ke mobil, terdengar teriakan seseorang
memanggilku. Kuamati dari jauh, terlihat seorang anak berlari sambil membawa
sebuah buku. Julvri rupanya.
"Miss
Lila ...!!!" panggilnya dengan terengah-engah.
"Julvri
... "panggilku dengan bahagia.
"Miss
Lila, ini buku cerita Miss Lila" ia menyodorkan sebuah buku cerita yang
dipinjamnya.
"Ini
untuk Julvri" jawabku cepat. Disambutnya jawabanku dengan cepat pula
olehnya.
"Benar
Miss Lila? Ini untuk Julvri?" tanyanya meyakinkan.
"Iya
Julvri. Tapi Julvri tidak boleh baca sendiri. Ceritakan isinya pada anak-anak
yang lain juga ya" pesanku padanya.
"Tentu
Miss Lila .... Miss Lila ..." jawabnya terjeda oleh sesuatu. Aku merasa ia
ingin mengungkapkan sesuatu.
"Iya
Julvri ..." kuberi ruang agar ia meneruskan.
"Julvri
ingin jadi Guru seperti Miss Lila" katanya dengan penuh keyakinan.
Duhai
Julvri sungguh kata-katamu mengoyak hatiku. Betapa panjang perjalanan harus
kutempuh. Seperti berlomba dengan waktu yang memburu. Akal dan hatikupun beradu
untuk sebuah kata itu, Guru. Namun, hari ini Tuhan menghadiahiku dengan
kata-kata manismu itu. Kutatap Julvri dengan seksama dan berkata, "Julvri
bisa menjadi apa saja dimana Julvri akan hebat di dalamnya. Lebih hebat dari
Miss Lila."
Aku
menutup drama perpisahan ini dengan pelukan hangat pada mereka yang bersedia
menemaniku berjuang untuk menemukan jawaban dari pertanyaan yang aku bawa saat
datang. Kini saatnya pulang dengan membawa jawaban itu. Kakiku melangkah pergi
dengan pasti.
Sampai
di bandara, Ayah, Ibu, dan Tita telah menunggu kedatanganku. Tita
melambai-lambai seperti sudah tidak sabar ingin memelukku, lebih dari ibu. Itu
yang kutangkap dari ekspresinya dari jauh.
"Lilaaaaaaaaa
..." teriaknya, menarik perhatian orang-orang di sekelilingku. Lalu
kamipun berpelukan erat. Dilanjutkan dengan Ibu yang sudah membuka kedua
tangannya untuk memelukku. Berulang kali ibu mengucap kalimat syukur pada
Tuhan. Dan terakhir Ayah. Kami saling beradu senyum sebelum aku mengawali
pelukan penuh drama.
"Ayah
... ayo kita bikin sekolah" kataku sambil terisak.
Dalam
dekap Ayah semua tumpah. Rasa yang sudah lama tersimpan membuncah.
Harapan-harapan baru merekah. Kali ini hati dan akalku tidak lagi beradu, namun
saling bersatu menguatkan untuk satu tujuan. Aku merasa utuh, sebagai manusia
yang telah menemukan jawaban dari pertanyaan tentang makna kehidupan.
Begitulah
kisah tentang perjalananku dalam menemukan jawaban dari pertanyaan tentang
makna kehidupan. Jangan panggil aku Guru karena aku adalah teman belajar
anak-anakku.
- Selesai -
Comments
Post a Comment