Teman Duduk



     Sabtu malam menjadi waktu yang istimewa bagi banyak orang, tidak terkecuali aku. Ada sebuah cafe yang terletak di pinggir kota tempatku bekerja. Di sana, aku bisa memesan kopi dan bebas membaca buku yang dipinjamkan gratis bagi para pengunjungnya. Karena hampir setiap Sabtu aku ke sana, mereka sudah hafal denganku. Bahkan, selalu menyiapkan spot favoritku, tentu tanpa paksaan dariku. Spot itu terletak di pojok cafe, ada 3 kursi bundar tanpa sandaran berjejer rapi, dan jendela besar yang memungkinkanku melihat pemandangan di luar jendela. Sebenarnya jika sore tiba, aku bisa bebas menikmati senja di sana,tapi sayangnya itu bukan hal yang mudah untuk terjadi. Menikmati matahari sore menjadi hal langka bagi sebagian orang, dan aku masuk diantaranya.

     "Seperti biasa ya .." ucapku pada pelayan cafe yang selalu tampak bahagia menyapa pelanggannya.
     "Siap!" jawabnya singkat sambil menunjuk spot favoritku dengan ibu jarinya.
Aku lalu memilih buku yang akan kubaca. Berbagai macam jenis buku tertata rapi diraknya. Pemilik cafe yangmencintaidunia buku berniat membagi segala buku yang pernah ia baca bagi pengunjungnya. Itu adalah impiannya. Informasi ini aku dapat saat iseng bertanya pada pemilik cafe di hari pertama aku datang ke sini. Ia dengan ramah menanggapi. Berbagi tentang awal mulanya cafe ini berdiri. Segala sesuatu terasa lebih bermakna ketika ada cerita disebaliknya. Cafe ini berhasil mengikat perhatianku dan memenuhi standar kenyamananku. Secangkir cappuccino telah disiapkan di mejaku.Aku duduk dengan nyamandengan buku di tangan. Playlist lagu dari Kina Grannis memutar pelan. Suasana sempurna untuk membaca.

Beberapa saat kemudian duduk seorang pengunjung di sampingku. Ia menyamankan duduknya sambil meletakkan barang bawaannya di meja. Seorang lelaki yang datang selepas pulang kerja, kuduga. 

Secangkir macchiato disiapkan dan sebuah tablet diletakkan tepat di sampingnya. Terlihat ia menyeruput kopi pesanannya.
"Banyak orang tidak sendiri di malam seperti ini" katanya memecah konsentrasi membacaku.
"Beberapa orang memilih sendiri dalam menikmati malam seperti ini" balasku tanpa kusadari.
Kulihat senyum simpul menghiasai wajahnya. Setelahnya ia memandang pemandangan di luar jendela yang ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang dan sekadar berkerumun menikmati musik jalanan.
"Sebagian orang menikmati keramaian sebagian orang lainnya menikmati kesendirian."Ia menoleh ke arahku sejenak sebelumkemudian membuka tabletnya. Sibuk denganyang ada di dalamnya.Dan aku kembali dengan buku di tanganku. Kami melewati berjam-jam berikutnya dengan tanpa kata. Sebelumakhirnyaia merapikan barang bawaannya dan pergi.Sekitar 10 menit kemudian, aku memilih untuk berhenti membaca. Menutup buku dan merapikan kursi dudukku. Aku berjalan ke kasir untuk membayar kopi pesananku.
"Sudah dibayar lho ... sama masnya tadi. Tumben ngga sendiri?" katanya menggodaku. Aku terhenyak kaget lalu menoleh kearahpintu. Ada yang berkeliaran di fikiranku.
"Okay. Thanks ya " jawabku pada petugas kasir. Aku lalu pergi dengan setengah berlari. Mencoba mencari laki-laki yang duduk di sampingku tadi. Sudah cukup malam, orang-orang tidak terlalu banyak di jalanan. Aku menggigit bibirku sendiri, menyesali sesuatu, anehnya aku belum yakin apa itu. Aku berjalan pelan mendekati pemusik jalanan sampai akhirnya aku menyadari bahwa lelaki itu tampak hendak pergi setelah menikmatinya juga.
"Hei...teriakku"menarik perhatian orang-orang. Iapun menoleh ke arahku.
"Thanks for the coffee" kataku. Kami bicara berjarak beberapa meter tanpa kusadari. Ia mengangguk dan setengah berteriak ia berkata "Terimakasih telah menjadi teman dudukku." Ia tersenyum dan melambaikan tangannya.
"Next time is on me" balasku cepat. Bahkan aku tidak menduga akan mengatakannya. Kulihat ia membentuk isyarat OK dengan jarinya. Kami lalu melangkah pergi. Kembali pada tempat pulang kami.




Comments

Popular posts from this blog

Kupu-Kupu

Hujanku