Teman Duduk
![]() |
"Seperti biasa ya .." ucapku pada pelayan cafe yang
selalu tampak bahagia menyapa pelanggannya.
"Siap!" jawabnya singkat sambil menunjuk spot favoritku
dengan ibu jarinya.
Aku lalu memilih buku yang akan kubaca. Berbagai macam jenis buku tertata rapi diraknya. Pemilik cafe yangmencintaidunia buku berniat membagi segala buku yang pernah ia baca bagi pengunjungnya. Itu adalah impiannya. Informasi ini aku dapat saat iseng bertanya pada pemilik cafe di hari pertama aku datang ke sini. Ia dengan ramah menanggapi. Berbagi tentang awal mulanya cafe ini berdiri. Segala sesuatu terasa lebih bermakna ketika ada cerita disebaliknya. Cafe ini berhasil mengikat perhatianku dan memenuhi standar kenyamananku. Secangkir cappuccino telah disiapkan di mejaku.Aku duduk dengan nyamandengan buku di tangan. Playlist lagu dari Kina Grannis memutar pelan. Suasana sempurna untuk membaca.
Beberapa saat kemudian duduk seorang pengunjung di sampingku. Ia menyamankan duduknya sambil meletakkan barang bawaannya di meja. Seorang lelaki yang datang selepas pulang kerja, kuduga.
Secangkir macchiato disiapkan dan sebuah tablet diletakkan tepat di sampingnya.
Terlihat ia menyeruput kopi pesanannya.
"Banyak
orang tidak sendiri di malam seperti ini" katanya memecah konsentrasi
membacaku.
"Beberapa
orang memilih sendiri dalam menikmati malam seperti ini" balasku tanpa
kusadari.
Kulihat
senyum simpul menghiasai wajahnya. Setelahnya ia memandang pemandangan di
luar jendela yang ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang dan sekadar
berkerumun menikmati musik jalanan.
"Sebagian
orang menikmati keramaian sebagian orang lainnya menikmati
kesendirian."Ia menoleh ke arahku sejenak sebelumkemudian membuka
tabletnya. Sibuk denganyang ada di dalamnya.Dan aku kembali dengan buku di
tanganku. Kami melewati berjam-jam berikutnya dengan tanpa kata. Sebelumakhirnyaia
merapikan barang bawaannya dan pergi.Sekitar 10 menit kemudian, aku memilih
untuk berhenti membaca. Menutup buku dan merapikan kursi dudukku. Aku berjalan
ke kasir untuk membayar kopi pesananku.
"Sudah
dibayar lho ... sama masnya tadi. Tumben ngga sendiri?" katanya
menggodaku. Aku terhenyak kaget lalu menoleh kearahpintu. Ada yang berkeliaran
di fikiranku.
"Okay.
Thanks ya " jawabku pada petugas kasir. Aku lalu pergi dengan setengah
berlari. Mencoba mencari laki-laki yang duduk di sampingku tadi. Sudah cukup
malam, orang-orang tidak terlalu banyak di jalanan. Aku menggigit bibirku
sendiri, menyesali sesuatu, anehnya aku belum yakin apa itu. Aku berjalan pelan
mendekati pemusik jalanan sampai akhirnya aku menyadari bahwa lelaki itu tampak
hendak pergi setelah menikmatinya juga.
"Hei...teriakku"menarik
perhatian orang-orang. Iapun menoleh ke arahku.
"Thanks
for the coffee" kataku. Kami bicara berjarak beberapa meter tanpa
kusadari. Ia mengangguk dan setengah berteriak ia berkata "Terimakasih
telah menjadi teman dudukku." Ia tersenyum dan melambaikan tangannya.
"Next
time is on me" balasku cepat. Bahkan aku tidak menduga akan mengatakannya.
Kulihat ia membentuk isyarat OK dengan jarinya. Kami lalu melangkah pergi.
Kembali pada tempat pulang kami.


Comments
Post a Comment