10 Jari Tangan Julvri
Akhirnya hari yang ditunggu
tiba. Pagi-pagi sekali kami bersiap berangkat ke tempat lomba. Diantar oleh
Bapak Riu dengan mobil tuanya. Dalam menempuh perjalanan selama 2 jam, aku
sarankan pada Julvri, Liben, dan Cit untuk istirahat, bersantai. Namun nasehat
itu seakan hanya dianggap lalu. Masing-masing sibuk menghafalkan dan
mempelajari kembali bagian mereka dalam lomba. Aku mengerti. Kusemangati mereka
sesekali.
Sampai di tempat lomba, peserta
sudah banyak yang berdatangan. Terlihat wajah antusias dari para pengantar,
sebaliknya terlihat wajah gugup para peserta. Satu-persatu mulai masuk ruang
lomba untuk registrasi. Begitu juga dengan Julvri, Liben, dan Cit.
Masing-masing lomba ditempatkan di ruang berbeda. Lomba story telling ada
di ruang 1, spelling bee ada di ruang 2, dan membaca puisi berbahasa
Inggris ada di ruang 3.
Lombapun dimulai. Para
pengantar atau pemdamping dapat melihat performa dari peserta di ruangan namun
dibatasi jumlahnya. Aku berbagi tugas dengan Bapak Riu. Bapak Riu berada di
ruang 2 sementara aku akan berada di ruang 1 dan 3. Ini memungkinkan, karena
Julvri dan Liben lumayan terpaut jauh urutannya.
Lomba di ruang 1 berlangsung
seru. Setiap peserta menampilkan penampilan terbaiknya. Tibalah giliran Julvri.
Julvri memulai penampilan dengan percaya diri namun di tengah-tengah ia sempat
kehilangan ekspresi, sepertinya ia terlalu memikirkan cerita selanjutnya. Aku
merasa ini bukan penampilan terbaiknya. Menurun dari yang sudah dilakukan saat
berlatih bersama.
Lomba di ruang 3 juga berlangsung sengit. Cit
yang memiliki modal percaya diri tinggi menampilkan sebuah puisi dengan penuh
penjiwaan. Para penonton sampai dibuat ternganga oleh caranya membaca. Gerak
badannya selaras dengan ekspresinya. Setiap kata ia baca dengan sepenuh
hatinya. Sepertinya memang darah seni itu mengalir deras di tubuhnya. Di akhir
penampilannya, ia mendapat tepuk tangan meriah dari penonton dan peserta. Aku
merasa Cit telah menemukan dunianya.
Terakhir, lomba di ruang 2, Bapak Riu bercerita bahwa
Liben tampil dengan sangat baik. Bapak Riu bahkan terlihat tidak percaya bahwa
murid di sekolahnya memiliki kemampuan seperti yang diperlihatkan Liben. Bapak
Riu seperti baru mendapat kabar kenaikan jabatan. Ia berulangkali
berterimakasih padaku padahal kabar kemenangan belum kami dapatkan.
Menjelang sore semua peserta,
penonton, dan panitia berkumpul. Ini adalah saat yang ditunggu oleh mereka yang
telah selesai berjuang, yaitu pengumuman pemenang. Panitia menyampaikan hasil
lomba dengan mengumumkan pemenang dari juara 3. Untuk lomba puisi Cit mendapat
juara 1, seperti yang kuduga. Kami berpelukan mendengar pengumuman itu. Di
lomba spelling bee, Liben mendapat juara 2, kami berpelukan kembali. Dan
terakhir adalah pengumuman hasil lomba story telling. Aku memegang
tangan Julvri. Tangannya dingin sekali. Bapak Riu menggenggam tangannya seperti
sikap seseorang yang sedang berdoa. Namun, sampai akhir pengumuman kami tidak
mendengar nama Julvri diucapkan.
Julvri menunduk lesu. Pundaknya
naik turun. Ia menangisi kegagalannya. Sesak dadaku melihatnya. Terlintas
kemudian perjuangannya dari awal mengikutiku pulang sekolah, setiap hari datang
ke rumah, menghafalkan berpuluh-puluh kosa kata. Semua itu dilakukannya tanpa
lelah. Apa boleh buat, Tuhan belum merizqikan gelar juara padanya.
“Maafkan Julvri Miss Lila …”
katanya sambil sesenggukan.
Koyak hatiku. Bahkan ia meminta
maaf untuk segala yang telah ia perjuangkan itu.
“Julvri … coba beri Miss Lila
semua jari tangan Julvri” kataku sambil mengangkat dagunya. Ditunjukkan
kemudian jari-jari tangannya yang kecil-kecil itu. Lalu aku melipat jarinya
satu persatu sambil berkata, “Ini untuk Julvri yang memiliki rasa ingin tahu
besar” kulipat jari yang pertama. “Ini untuk Julvri yang tidak lelah
menghafalkan kosa kata” kulipat jari yang kedua. “Ini untuk Julvri yang tidak
berhenti belajar” kulipat jari ketiga. “Ini untuk Julvri yang tekun dalam
berlatih” kulipat jari yang keempat. “Ini untuk Julvri yang memiliki semangat
tinggi” kulipat jari yang kelima. “Ini untuk Julvri yang berani mencoba”
kulipat jari yang keenam. “Ini untuk Julvri yang tidak menyerah meski pernah
gagal” kulipat jari yang ketujuh. “Ini untuk Julvri yang sabar meskipun belum
menang” kulipat jari yang kedelapan. “Ini untuk Julvri yang mau memperbaiki
kemampuan yang kurang” kulipat jari yang kesembilan. "Ini untuk
Julvri yang sudah berjuang" kulipat jari yang kesepuluh.
Ia lalu berhambur ke pelukanku.
Kudekap ia sepenuh hatiku. Segala yang menyakitkan, kelak akan menguatkan.
Kataku dalam hati dengan penuh harapan. “Meski hari ini Julvri gagal, bukan
berarti esok tidak bisa coba lagi. Kalau ada kesempatan lomba lagi Julvri sudah
punya pengalaman untuk dipelajari. Terimakasih sudah berjuang Julvri” kataku
menguatkan. Tangis Julvri semakin kencang. Kulihat Bapak Riu berjalan mendekat,
sementara Liben dan Cit yang membawa piala kemenangan berlari ke arah
kami. Lalu kami berempat berpelukan erat.
Comments
Post a Comment