Aku Cinta Indonesia, Izakod Bekai Izakod Kai
Akhirnya hari keberangkatanku
tiba. Aku berpamitan dengan Ayah dan Ibu sementara Tita tidak bisa mengantarku
sampai bandara tapi ia sudah meneleponku sebelum berangkat kerja. Saat
bertelepon, aku
mendengar suaranya parau, sepertinya ia menangis. Aku mengerti. Meskipun Tita
terlihat sangat ceria tapi ia tidak memiliki banyak teman dekat. Sejauh ini
hanya aku dan keluargaku yang paling dekat dengannya. Ia memiliki ketakutan
untuk berpisah dengan yang disayanginya.
Saat di bandara, Ibu memelukku
dengan sangat erat. Itu pelukan terhangat sepanjang beberapa
tahun terakhir.
Kami tidak pernah berpisah dalam waktu yang lama selama ini. Sebaliknya Ayah
terlihat tidak khawatir. Beliau justru menasehatiku untuk bekerja dengan baik
dan berkata bahwa suatu saat aku akan mengerti. Sebenarnya aku berharap Ayah
berkata “Ayah sayang sama Lila, jaga diri baik-baik ya” itu saja.
Pesawat yang kunaiki akan
transit di Makassar dan Jayapura. Setelah itu baru sampai di bandara Mopah, Merauke.
Perjalanan terasa panjang. Aku baru menyadari bahwa Indonesia memang sangat
luas. Maklum, perjalananku sebelumnya hanya sebatas antar pulau Jawa saja.
Sepanjang perjalanan, aku mengamati pemandangan dari pesawat. Saat melewati
tanah Papua aku begitu kagum dibuatnya. Betapa kita terberkahi dengan kondisi
alam di negara ini. Aku pun akhirnya menyetujui kalimat bijak itu “sebuah
perjalanan dapat mengantarkan kita pada rasa syukur.”
Sesampainya di bandara Mopah,
aku dijemput oleh kepala Sekolah SD tempat aku akan mengajar selama 1 tahun ke
depan. Kepala sekolah menyambutku dengan hangat.
“Selamat datang Bu Guru” dengan
senyum lebar yang memperlihatkan gigi-giginya.
“Teirmakasih Bapak” sambil
mengacungkan tangan untuk bersalaman. Beliaupun menyambut tanganku dan
menyebutkan namanya, “Panggil saja Bapak Riu, Bu Guru.”
Kubalas perkenalan itu dengan
menyebutkan namaku juga, “ saya Lila Bapak.”
Kami lalu melanjutkan
perjalanan. Dari bandara membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam untuk sampai di
distrik Sota. Di sepanjang perjalanan Bapak Riu menceritakan tentang kota
Merauke dan sekolahnya. Aku menjadi pendengar baiknya.
Akhirnya kami sampai di
sekolah. Kami berjalan masuk ke area sekolah. Ada 7
gedung di sana
masing-masing untuk kelas 1-6 dan ruang guru. Sekolah ini terletak di
perbatasan Indonesia-Papua Nugini. Di setiap kelas hanya ada 15-20 anak. Kata Bapak
Riu, tidak banyak yang bersedia tinggal di perbatasan.
Di samping papan nama sekolah,
kulihat ada sebuah papan bertuliskan “Aku Cinta Indonesia, Izakod Bekai Izakod
Kai.” Akupun menanyakan arti kalimat itu pada Bapak Riu,”Bapak apa arti tulisan
di papan itu?” tanyaku sambil menunjuk papan bertuliskan kalimat itu.
“Izakod Bekai Izakod Kai
artinya Satu Hati Satu Tujuan Bu Guru” jelas Pak Riu.
Aku terdiam sejenak. Terlintas
banyak hal dalam fikiranku. Termasuk pertanyaan tentang mereka yang bersedia
tinggal atau bertugas di daerah perbatasan, apakah alasan disebalik keputusan
itu.
“Is love the answer?” Ucapku lirih.
Lamunanku terhenti oleh Bapak
Riu.
“Bu Guru … mereka adalah
murid-murid Ibu Guru.” Bapak Riu lalu berkata dengan lantang, “anak-anak … Ibu
Guru baru kalian sudah datang!”
Anak-anak yang sedang sibuk
bermain di halaman rumput hijau itupun akhirnya menoleh dan berteriak
bersamaan, “Selamat datang Ibu Guru!!!!!”
Bergemuruh dadaku. Aku terpaku. Aku belum
tahu nama rasa itu. Aku merasa hilang sementara waktu. Aku menoleh ke Bapak Riu
dan berkata “Bapak Riu aku tidak mau dipanggil Guru.” Bapak Riu tercenung.
Bingung. Apa boleh
buat hatiku belum menerima panggilan itu. Aku tidak tahu kenapa. Aku berharap
sekolah ini bisa membantuku menemukan jawabannya.
Comments
Post a Comment