Satu Anak Satu Harapan
Sejak memutuskan mendaftar
menjadi relawan, aku sudah menyadari bahwa dalam menjalankan tugas ini aku
tidak boleh setengah-setengah, meskipun aku belum seratus persen menyukainya.
Aku memilih berdamai dengan rasa itu. Aku bertekad untuk berusaha sebaik
mungkin sebagai guru dengan versiku. Beberapa Minggu terakhir sebelum berangkat
aku membaca buku tentang teori pembelajaran, metode pengajaran, psikologi
pendidikan, dan menonton banyak video pengajaran bahasa Inggris pada anak-anak
di YouTube. Aku berharap semua itu bisa menjadi petunjuk dan sebagai dasar
pembelajaran di kelasku, tentu dengan penyesuaian yang dibutuhkan di dalam
kelas nanti.
Hari ini adalah hari pertama
aku masuk kelas. Aku berencana untuk melakukan perkenalan saja. Mencoba mencari
tahu background dari anak-anak di kelas. Mengetahui karakter mereka satu
per satu. Aku cukup merasa gugup saat masuk kelas. Seberapapun teori telah
banyak kubaca dalam praktiknya memang tetap masih ada kekhawatiran tentang
keberhasilannya. Aku masuk ke kelas dan mendapati anak-anak sudah duduk rapi di
dalamnya.
“Good morning!!!” kataku
membuka kelas pertama.
Tidak ada jawaban. Anak-anak
diam dengan tangan masih di atas meja. Mereka menatapku. Aku gugup dibuatnya.
“Selamat pagi!!!” salamku yang
ke dua.
Serentak mereka membalas
salamku “selamat pagi Bu Guru!”
Aku lega dibuatnya. Hipotesaku
mereka tidak terbiasa dengan salamku yang pertama. Aku berkomitmen untuk
memakai bahasa Inggris di kelas ini, untuk membiasakan mereka mendengarkan kosa
kata baru. Jika mereka tidak menegerti maka akan kujelaskan dengan gestur atau
gerakku nanti. Aku tahu ini tidak mudah dan tidak bisa dilakukan di hari
pertama kelas ini.
“Baik. Ini adalah kelas bahasa
Inggris. Jadi kalian bisa memanggil saya dengan Miss Lila.” Aku menuliskannya
di papan tulis berwarna hitam. Kulihat anak-anak tetap diam.
Tidak ada yang
berani mulai bicara sampai akhirnya salah seorang anak yang duduk paling
belakang pojok kanan dari tempatku berdiri berkata lantang “Iya Bu Guru” lalu
menutup mulutnya dan melanjutkan kata-katanya “miss … Lila …” lanjutnya ragu
diikuti suara tawa anak-anak lainnya. Memeriahkan suasana.
“Terimakasih. Siapa namamu?”
tanyaku.
“Nama saya Liben Bu” jawabnya
dengan penuh energi.
“Baik Liben. Sekarang Miss Lila
minta Liben menyebutkan satu harapan Liben, boleh apa saja.” Aku menangkap
kebingungan di wajahnya. Lalu aku mengedarkan pandanganku. Semua anak tampak
bertanya-tanya. Lalu aku menuliskan kata, “HOPE = HARAPAN” dengan cukup besar
di papan tulis untuk memastikan semua anak dapat melihatnya lalu berkata “One
hope” sambil menunjukkan satu jari.
“Misalnya Miss Lila berharap
semua anak di kelas ini dapat menguasai bahasa Inggris” kataku dengan semangat.
Lalu Liben tanpa ragu mengikutiku “Liben berharap bisa menyanyikan lagu bahasa
Inggris, Bu …” kedua tangannya menutup mulutnya, pertanda ia menyadari
kelirunya dalam memanggilku, “miss …” tutupnya disambut tawaku. Aku merasa
ekpresinya saat itu sangat lucu. Kemudian anak-anak lainnya menyebutkan
harapannya.
“Saya Julvri berharap bisa
membaca buku cerita berbahasa Inggris.
“Saya Elliah berharap bisa ke
luar negeri.”
"Saya Prazna berharap bisa memakai
komputer."
“Saya Arfail berharap bisa
membaca puisi berbahasa Inggris.”
“Saya Redana berharap jadi
pemandu wisata.”
"Saya Fielda berharap bisa
bertemu Presiden."
"Saya Maruna berharap jadi
pedagang baju.”
"Saya Nadivah berharap jadi
penulis cerita berbahasa Inggris.”
“Saya Isy berharap bisa jadi
penari.”
Sampai akhirnya anak terkahir
menyebutkan harapannya, “Saya Cit berharap bisa jadi artis” katanya sambil
berdiri dengan penuh percaya diri disambut sahutan “Huuuuuuu” oleh
teman-temannya.
Aku menaruh satu jari di depan
mulutku dan berkata, “Baiklah. Miss Lila sudah mendengar semua anak telah
menyebutkan satu harapannya …” aku meletakkan kedua tanganku di daun telingaku
“Terimakasih. Miss Lila akan mencoba mengingatnya” kusilangkan kedua tanganku
di atas dada.” Semua harapan kalian baik, tidak ada yang jelek. Miss Lila
percaya kalian bisa mewujudkannya. Apalagi di kelas Miss Lila, semua bebas
menjadi apa saja.”
Kelas
berlanjut dengan perkenalan lebih dalam. Kutanyakan alamat rumah dan hobi
mereka. Sampai akhirnya kututup kelasku yang pertama.
Aku percaya pada setiap anak
yang terlahir di dunia ini memiliki harapan yang layak untuk dihargai. Tanpa
terkecuali. Bisa jadi harapan-harapan itu tampak sederhana awalnya. Namun jika
mereka memiliki cukup rasa percaya diri, aku yakin kelak satu harapan yang
sederhana itu bisa menjadikan mereka tangguh di masa depan. Tugasku adalah
memberi ruang pada harapan-harapan itu agar berkembang. Menemani mereka
bertumbuh perlahan-lahan bersama waktu. Satu anak adalah satu harapan.
Sekarang, harapan mereka menjadi harapanku juga. Aku merasa mendapatkan energi
baru untuk kelas berikutnya.
Comments
Post a Comment