Julvri dan Semangatnya
Kelas-kelas
selanjutnya berjalan
dengan meriah. Aku menggunakan berbagai macam cara untuk menyampaikan materi
yang ingin dipelajari. Kadang kami bernyanyi bersama, bermain peran, kubacakan
mereka cerita pendek dan puisi. Kuizinkan mereka berekpresi dan bereksplorasi.
Terkadang aku dibuat terkejut oleh kemampuan mereka dan kadang merasa kecewa
juga karena hasil pembelajaran yang didapat tidak sesuai ekspektasi.
Setiap anak memiliki
ketertarikan yang berbeda. Beberapa sangat tertarik dengan kegiatan menyanyi.
Beberapa sangat aktif dalam bermain peran. Beberapa tertarik dengan membaca
cerita, salah satunya Julvri.
Sejak pertama kali aku
membacakan cerita pendek di kelas, Julvri paling antusias mendengarkan. Bahkan
sesekali kulihat seperti menirukan ekspresiku dan mimikku dalam bercerita. Saat
ditanya iapun bisa menjawabnya. Tentu masih dengan menggunakan bahasa Indonesia.
Namun aku tetap mengapresiasinya.
Suatu hari saat aku berjalan
pulang dari sekolah, Julvri mengikutiku diam-diam dari belakang. Tentu aku
menyadari keberadaannya.
“Ada apa Julvri? Kenapa
mengikuti miss Lila?” tanyaku sambil membungkukkan badanku ke arahnya agar
mataku dapat beradu pandang dengannya.
“Aku mau tahu lanjutan
ceritanya Miss Lila. Aku penasaran dengan akhir ceritanya” jawabnya dengan
bersemangat sambil memegang pegangan tas punggungnya yang kebesaran.
“Oh … jadi Julvri penasaran?
Ingin tahu?”
“Iya … iya” jawabnya diiringi
anggukan.
“Baiklah miss Lila akan
membacakan ceritanya setelah sampai rumah.
Saat membacakan cerita di kelas
aku sering memberikan pertanyaan pada mereka. Seperti menanyakan tentang apa
yang mereka lakukan jika menjadi tokoh yang diceritakan dan atau menanyakan
bagaimana seharusnya mereka dapat memecahkan masalah yang dialami tokoh dalam
cerita. Terkadang aku sengaja menahan akhir cerita agar mereka menebak-nebak
akhir dari cerita itu. Mencoba membuat mereka penasaran dan menumbuhkan rasa
keingintahuan. Dan kurasa itu cukup berhasil. Sangat berhasil pada
Julvri.
Setelah sampai rumah aku
membacakan cerita untuk Julvri. Tidak disangka ini berlangsung setiap hari.
Julvri hampir setiap hari datang ke rumah. Pernah suatu kali di hari Minggu
saat aku sedang malas-malasnya. Sengaja bangun sedikit lebih siang dari
biasanya. Julvri sudah berada di depan pintu. Mengetuk-ngetuk pintu seakan
tiada jeda bunyinya. Dengan muka bantal aku membukakan pintu untuknya.
“Miss Lila …” panggilnya dengan
senyum lebar yang memperlihatkan gigi-giginya menyambutku di depan pintu.
“Ini hari Minggu Julvri …”
kataku dengan rasa sebal yang kutahan. Meski begitu aku tetap mempersilakan ia
masuk dan memintanya menungguku bersiap dengan ceritaku. Sambil mandi aku
memikirkan tentang cara untuk mendisiplinkan Julvri.
Aku menyadari bahwa rasa
penasaran dan keingintahuannya berharga. Dan itu harus dijaga. Tapi aku tidak
bisa membacakan cerita untuknya setiap hari. Selain aku tidak banyak membawa
buku cerita. Kurasa kemampuannya tidak akan cepat berkembang jika hanya dengan
mendengarkanku bercerita.
Akhirnya sebuah ide
muncul di keplalaku. Aku akan memberikan Julvri tantangan. Setelah membacakan
sebuah cerita. Aku mengizinkan ia memilih buku cerita yang sudah kami baca
sebelumnya. Lalu aku memilihkan 15 kata yang ada di cerita. 15 kata itu
terdiri 5 kata benda, 5 kata sifat, dan 5 kata kerja. Masing beserta artinya
kutuliskan dalam selembar kertas warna. Lalu aku merekam cara pengucapannya
dalam sebuah alat perekam. Julvri terlihat takjub dengan alat itu. Aku
mengajarinya cara menggunakannya. Setelah itu aku memintanya untuk membawa
pulang alat perekam dan catatan kosa kata dariku. Aku memintanya mendengarkan
kosa kata yang didapat hari itu berulang kali lalu menirukan dan menghafalkan
tulisan beserta artinya.
“Miss Lila beri waktu Julvri 2
hari untuk datang kembali. Setelah itu Julvri bisa mendengarkan Miss Lila
bercerita lagi” jelasku dengan yakin.
“Bagaimana kalau Julvri tidak
bisa menyelesaikan tantangan Miss Lila?” tanyanya dengan sedikit takut. Aku
seperti merasakan inferioritasnya muncul.
“Berusahalah terlebih dahulu.
Miss Lila percaya Julvri akan bisa melakukannya dengan baik” kataku sambil
memegang kedua pundaknya. Aku tidak memberi celah pada keraguannya. Sebaliknya
berusaha memberi kepercayaan penuh padanya.
“Baik Miss Lila” jawabnya
sambil memegang alat perekam dan kertas catatan di tangannya.
“Sekarang Julvri boleh pulang
dan kembali 2 hari lagi.”
Julvri lalu pulang dengan
langkah cepat seperti ada sesuatu yang hendak ia tangkap. Aku masih berdiri di
depan pintu, mengamatinya menjauh sambil komat-kamit berdo’a agar Julvri bisa
menaklukkan tantangannya. Setelahnya aku dengan cepat masuk ke kamarku, kutarik
selimutku, lalu melanjutkan tidurku.
Comments
Post a Comment