3 Pejuang
Semenjak aku memberikan
tantangan pada Julvri, ia datang setiap 2 hari sekali. Sejauh ini ia dapat
menyelesaikan setiap tantangan dengan baik meski beberapa kali ia juga gagal.
Jika ia tidak berhasil mengucapkan dan menuliskan kosa kata yang didapat, aku memberlakukan
hukuman yaitu tidak mendengarkan cerita baru dariku. Ia tampak kecewa tentu
saja. Tapi aku sudah bertekad untuk mengajarkan kedisiplinan padanya. Agar
semangatnya tetap pada tempatnya.
Setelah pulang sekolah Pak Riu
meminta bertemu denganku. Aku diminta menunggu beliau di ruangannya.
“Bu Guru Lila … aduh … Miss
Lila” panggilnya dengan mengernyitkan dahinya. Bapak Riu memang tampak susah
payah memanggilku dengan selain panggilan ‘Bu Guru’, mungkin karena beliau
memanggil semua guru wanita dengan Bu Guru. Sejujurnya aku merasa tidak enak
juga.
“Begini Miss Lila. Akan ada
lomba bahasa Inggris antar sekolah tingkat kabupaten. Lombanya ada 3, yaitu:
membaca puisi, story telling, dan spelling bee. Menurut Miss Lila
bagaimana? Apakah kita akan berpartisipasi juga?” tanya Bapak Riu ragu.
“Tentu saja Bapak. Itu adalah
kesempatan bagus bagi anak-anak kita” jawabku antusias.
“Tapi Bu … Miss Lila …
sebelumnya kita belum pernah ikut lomba semacam ini. Ini mungkin yang pertama.
Apa Miss Lila yakin ada anak-anak yang mampu?” tanya Bapak Riu dengan ragu
sekaligus juga meminta keyakinanku.
“Tentu Bapak. Saya yakin pada
Liben dan kawan-kawan. Saya akan menyeleksi mereka terlebih dahulu.”
“Seleksi?” Bapak Riu tampak
kaget melihat keseriusanku.
“Iya Bapak, besuk saya akan
melakukan seleksi untuk perwakilan lomba sekolah kita” balasku penuh keyakinan.
“Baiklah kalau begitu” tutup
Bapak Riu.
Keesokan harinya aku mengumumkan perihal
lomba itu di depan anak-anak.
“We will join competition next
month” ucapku sambil menuliskan kata COMPETITION = LOMBA di papan tulis.
Anak-anak mencoba membaca tulisan itu bersama-sama. Mereka sudah mengerti dan
terbiasa dengan cara mengajarku. Setiap kata yang kutulis di papan tulis
langsung coba mereka baca semampu mereka.
“Yup. COM-PE-TI-TION” ucapku
penuh tekanan.
“Lomba apa bu?” tanya
Prazna.
“English competition.
Miss Lila akan menyeleksi kalian semua untuk mewakili sekolah kita dalam lomba.
Ada 3 lomba, yaitu lomba story telling, spelling bee, dan membaca
puisi.” Aku menjelaskan satu persatu tentang lomba itu pada mereka. Anak-anak
tampak ternganga mendengarkan penjelasanku barangkali karena ini merupakan hal
baru bagi mereka.
Proses seleksipun dimulai. Aku
meminta mereka menghadapku satu persatu di depan kelas dan meminta mereka
melafalkan alfabet dalam bahasa Inggris, membaca cerita pendek, dan puisi.
Sebelumnya Bapak Riu memberi saran agar menunjuk mereka yang memiliki peringkat
saja agar lebih mudah. Tapi aku tidak ingin meneruskan tradisi itu. Aku ingin
setiap anak memiliki kesempatan yang sama. Menghadirkan rasa “pernah mencoba”
sesuatu meskipun tidak terpilih pada akhirnya.
Seperti yang kuduga, Julvri
memiliki kemampuan paling menonjol dalam membaca cerita. Kuputuskan ia menjadi
story teller dalam lomba. Sementara Liben yang memiliki harapan bisa
menyanyikan lagu berbahasa Inggris ternyata memiliki pronunciation yang
baik jadi kuputuskan ia mengikuti lomba spelling bee. Dan terakhir yang
tidak terduga Cit yang berharap menjadi artis tampak percaya diri membaca
puisi. Aku merasa ia juga cukup bagus dalam membaca kalimat berbahasa Inggris.
Akhirnya terpilihlah 3 perwakilan lomba.
“Baik setelah melakukan seleksi
Miss Lila sudah mendapatkan perwakilan yang akan mengikuti lomba dari kelas
kita.” Anak-anak tampak gugup. Sebagian ada yang diam membeku, menggenggam
tangan mereka erat, dan sebagian ada yang berpelukan. Aku merasa seperti juri lomba
menyanyi di salah satu TV swasta yang sedang mengumumkan siapa yang
harus pulang di hari itu.
“Yang 1 adalah Julvri dengan
lomba story telling” sorak sorai mereka memanggil Julvri sambil bertepuk
tangan.
“Yang ke 2 adalah Liben dengan
lomba spelling bee” disambut kembali dengan tepuk tangan meriah.
“Dan yang ke 3 adalah …” aku
sengaja menjeda, mencipta ketegangan di antara mereka, “… Cit dengan lomba membaca puisi”. Namun anehnya
semua anak tampak terdiam, hanya Cit yang tampak sumringah. Ia berdiri dan
bertepuk tangan sendiri. Semua anak hanya menoleh ke arah Cit. Rupanya mereka
benar-benar tidak menyangka bahwa Cit yang akan terpilih.
“Baik … mereka yang terpilih
adalah yang mendapat poin tertinggi dari hasil seleksi Miss Lila jadi kita
harus mendukung dan menyemangati mereka ya” kataku menyemangati.
“Yes, Miss” jawab mereka
serentak lalu bertepuk tangan.
“Mereka adalah pejuang sekolah
kita. Kita harus berusaha sebaik mungkin agar kita bisa mengabarkan kemenangan
pertama bagi sekolah kita” kataku berapi-api.
“Yes, Miss” jawab mereka sambil
bertepuk tangan serentak. Gemuruh kelas dengan suara teriakan bersama “We can
do it! We can do it! We can do it!” mengikuti kemudian.
Comments
Post a Comment