3 Pemenang Kehidupan
Beberapa hari setelah terpilih
menjadi perwakilan lomba, Julvri, Liben, dan Cit rutin mengunjungi rumahku
untuk berlatih bersama. Kubuatkan jadwal tentang penggunaan alat perekam yang
hanya satu jumlahnya. Setiap anak mendapat kesempatan membawa pulang alat
perekam itu selama 2 hari sekali. Aku merekam cerita untuk Julvri, merekam
kumpulan kosa kata sesuai tema lomba untuk Liben, dan merekam puisi untuk Cit.
Ketiganya berlatih dengan semangat. Hari demi hari kami lalui dengan penuh
harapan bahwa kami akan membawa pulang piala kemenangan.
Sejak mendengar Julvri, Liben, dan
Cit akan mengikuti lomba bahasa Inggris, orang tua mereka pun rajin
mengunjungiku. Mereka bahkan selalu memberiku beraneka ragam hasil pertanian.
Suatu hari Ayah Julvri membawakan berkilo-kilo beras, ibu Liben membawakan
sayur-sayuran, dan Ayah Cit membawakan buah-buahan. Sungguh mengharukan.
Di sela-sela berlatih terkadang
aku mengamati Julvri, Liben, dan Cit. Betapa keras usaha mereka dalam belajar.
Seakan mereka tidak mau dikalahkan keadaan. Julvri yang dari awal mengejar rasa
ingin tahunya, datang hampir setiap hari untuk mendengarku bercerita. Liben
sekarang menjadikan alat perekam sebagai kawan tidurnya. Menurut cerita orang
tuanya, Liben mendengarkan suaraku sampai tertidur saat malam. Diletakkannya
alat perekam itu di dekat kepalanya. Cit yang penuh percaya diri rajin membaca
puisi di mana saja. Saat mandi, saat bercermin, saat mencuci piring, saat
membantu orang tuanya di ladang, saat makan, dan bahkan sesekali mengigau
membaca puisi itu. Begitu orang tuanya juga bercerita.
Hari ini hari terakhir kami
berlatih. Lusa, hari perlombaan tiba. Setelah selesai berlatih Julvri, Liben,
dan Cit menghampiriku yang sedang merapikan buku-buku yang kami pakai untuk
berlatih bersama.
“Miss Lila … bagaimana kalau
kami tidak menang?” tanya Liben dengan tegang.
“Iya Miss Lila … kami takut”
tiba-tiba nyali Julvri juga menciut.
“Yakinlah pada kemampuan
kalian. Kita sudah berusaha dengan keras bersama-sama. Julvri, Liben, dan Cit
mengalami banyak kemajuan yang luar biasa. Coba ingat baik-baik bagaimana awal
mula kalian belajar. Saat lomba adalah waktunya kalian memaksimalkannya. Miss
Lila percaya kalian bisa melakukan yang terbaik” usahaku meyakinkan. Akhirnya
mereka pulang dengan membawa keyakinan masing-masing.
Aku menatap mereka yang
perlahan menjauh. Pundak mereka, selain menahan beban tas yang kebesaran, kini
ada satu lagi tambahan yaitu kemenangan pertama untuk sekolah mereka. Ini
bisa saja menjadi sejarah bagi sekolah dan juga untuk diri mereka sendiri. Suatu
saat nanti ketika mereka mendewasa mereka akan mengingat bahwa mereka pernah
berjuang melawan keterbatasan, tidak mau dikalahkan oleh keadaan, dan
bersemangat dalam mewujudkan harapan. Sejatinya mereka telah menjadi pemenang.
Bersama mereka aku belajar kehidupan.
Comments
Post a Comment