Jangan Panggil Aku Guru

Sebuah seri cerita yang kutulis untuk mengikuti event 14 Hari Menulis Harapan yang diselenggarakan oleh Bentang Pustaka. Ini adalah seri cerita ke 2 setelah Teman Seperjalanan

Kalah Dengan Ayah, Lelah Melawan Takdir

Pukul delapan pagi, alarmku berbunyi. Ini pertama kalinya setelah 2 tahun terakhir aku mengatur alarm sesiang itu. Biasanya aku atur pukul 5 pagi agar tidak telat berangkat kerja. Sebulan lalu aku keluar dari pekerjaan dan sekarang sedang menikmati hari-hari di mana aku bisa bangun siang sesukaku. Aku berusaha mematikan alarmku dengan meraba-raba letaknya di meja. Setelah berhasil mematikannya, suara lain mengusik tidurku. Ponselku berdering.
“Halo …” jawabku dengan setengah tidur. 
“Lila, lu beneran lolos seleksi ya? Beneran mau berangkat? Katanya lu ngga mau jadi guru?”
Suara Tita terdengar berisik sekali di telingaku. Seperti suara laju kereta.
“Ehmmm … aku cuma capek aja Ta” jawabku dengan mengantuk. 
“Capek? Lu abis ngapain? Lari pagi? Tumben … kok nggak ngajak gue?” 
Belum sempat aku menjawab berondongan pertanyaanya terdengar nada abadi yang tidak bisa diganti … tut tut tut. Sambungan kami terputus. 
Aku membuka mata dan melebarkannya. Kutaruh ponsel di samping bantalku. Kupeluk boneka Teddy Bear lusuh berwarna coklat yang telah menemaniku selama 25 tahun terakhir. Aku menghela nafas panjang. Membuka tirai jendela yang terletak persis di samping kasurku. 
“Setidaknya … hari ini cerah …” ucapku lirih. Mengawali pagi di mana aku menyandang status baruku sebagai “guru.”
5 Bulan lalu aku melamar sebuah gerakan pendidikan yang mengundang relawan untuk mengajar di sekolah terpencil. Aku memutuskan untuk mendaftar setelah aku cukup frustasi dengan diriku sendiri. 2 tahun aku bekerja sebagai HRD di sebuah perusahaan, namun aku merasa tidak ada ketenangan menjalaninya. Mungkin karena aku tidak mendapat restu Ayah atau karena sebab lainnya, entahlah. Sejujurnya pekerjaanku yang lalu memang tidak sejalan dengan jurusan kuliahku, keguruan. Aku mengambil jurusan keguruan bukan karena itu impianku melainkan atas permintaan ayahku. Cerita klasik bagi sebagian orang dan sayangnya aku masuk diantaranya. 
Setelah lulus, aku sempat memasukkan banyak lamaran, namun untuk profesi guru hanya kujadikan cadangan. Tapi dari sekian banyak lamaran itu, aku selalu mendapatkan panggilan untuk profesi guru. Aku selalu memutus rangkaian seleksi kerja guru di bagian microteaching selebihnya aku tinggal meskipun lolos sampai tahap wawancara. Apalagi kalau bukan karena aku merasa guru itu bukan cita-citaku tapi cita-cita ayahku. Sampai akhirnya aku memutuskan mendaftar gerakan pendidikan itu. 
Sebulan lalu aku mendapat kabar kelolosanku sebagai salah satu relawan terpilih angkatan tahun ini. Aku akan berangkat ke Sota salah satu distrik di kabupaten Merauke, Provinsi Papua, Indonesia. 
Ponselku berdering kembali namun dengan nada yang berbeda. Sebuah pesan masuk dari Tita. 
“Sorry, pulsa gue abis tadi. Nanti pulang kerja gue ke rumah lu ya. Kita ngobrol. Inget lho, lu utang cerita sama gue.” 
Pesan Tita ku balas seperti biasa.
“Iya .. Tita tita di dinding.” 
Aku bangun lalu duduk menyender pada dinding kamar dan kutaruh ponselku di meja. 
“Yah .. aku mengakui kekalahanku. Aku kalah dengan ayah. Dan aku sudah capek melawan takdir” gumamku dalam hati. Di tengah keputus asaanku, aku berharap dapat menemukan jawaban mengapa Ayah begitu mengagungkan profesi itu, guru. 
          Pukul 4.30 sore Tita sampai di rumahku dengan kuyu dan di sambut ibu. Aku mengamati kedatangannya dari ruang baca yang terletak tepat di samping teras rumahku. Kulihat Tita berjalan mendekat ke arahku lalu melempar sesuatu, es krim kesukaanku. 
          “Ihhh … sebel gue, ayo cepetan cerita gimana caranya lu mau ke Papua” katanya sambil memukul-mukulkan bantal duduk yang tadinya tergeletak di sofa. 
          “Sabarlah … baru sampai juga” jawabku menggantung penjelasanku. 
“Ihhh udah gue suap juga pake es krim” balasnya geram.
“Hehe … makasih ya. Jadi gini … “ aku bercerita sambil sesekali makan es krim pemberian Tita, “beberapa bulan lalu aku daftar program itu eh keterima. Kamu tahu kan kalo aku ngga nyaman sama kerjaan dan keadaan yang ada sekarang, jadi aku mutusin buat nyoba jadi relawan siapa tahu lama-lama cinta. Seminggu lagi aku berangkatnya.”
“Idiiih jatuh cinta sama profesi, kaya gue nih sama Mino oppa” balasnya memasang muka genitnya.
“Ihhh … kebanyakan nonton drama” balasku.
“Hya! Dia ngga maen drama Lila tapi nyanyi …” Tita lalu menyanyikan lagu dari idolanya itu. Namun tak berapa lama nyanyiannya terhenti karena kedatangan ibuku.
“Ini ayo … makan camilannya dulu. Sambil ngobrol ya sebelum dihabisin Lila.” Ibuku menghidangkan camilan keripik singkong yang dibeli kemarin dari warung tetangga. 
“Terimakasih tante …” jawab Tita berlagak jadi gadis paling manis se Indonesia Raya. 
“Yah … La, kalo lu berangkat nanti gue nonton film Disney sama siapa dong. Film Mulan udah mau keluar nih. Terus entar yang nemenin gue lembur malem siapa dong, duh … yang nraktir gue waktu tanggal tua siapa ...” katanya sambil merengek manja. 
“Ckckckckck … hidupmu emang ngga ada apa-apanya tanpa aku ya Ta. Aku turut prihatin” godaku.
“Yeee … kePDan” jawabnya dengan muka sebal lalu berubah muka sedih “tapi bener sih” katanya sambil memasukkan kripik di mulutnya kemudian.
“Yaudah … ikut aku aja” kataku menggoda sambil menari ala Princess Elsa di depannya dengan menyanyikan lagu terbaru dari filmya namun liriknya kuganti menjadi “Let’s go to Sotaaa let’s go to Sotaaaa … let's go to Sotaaaaa aaa aaaa."
 “Ogaaaaaah …” teriak Tita lantang.
Kamipun tertawa bersama lalu berpelukan. 
Your life will be alright Ta … even without me” kataku menenangkan. 
“Iya … tapi ngga sama” balasnya manja.
Aku dan Tita memang selalu bersama sejak dari SMA. Takdir seperti selalu menyatukan kami berdua. Kami selalu diterima di sekolah dan kampus yang sama. 


Comments