Teman Seperjalanan

2 Jam terakhir perjalanan kami sedikit lebih hening.Ada waktu di mana kami sibuk dengan fikiran kami masing-masing.

Suara laju kereta memecah keheningan yang tercipta setelah perbincangan kami terakhir tentang keluarga.Barangkali karena kami asyik berbagi cerita suara itu serasa tidak terdengar di jam-jam sebelumnya.Aku meraba fikiranku sendiri tentangnya. Tiba-tiba aku ingin tahu sebenarnya peristiwa apa saja yang ia alami di sepanjang kehidupannya sehingga ia menjadi setangguh itu. Setidaknya itu kesan yang kutangkap dari beberapa waktu yang kuhabiskan bersamanya.Ada ragu sejenak mampir ke akalku sebelum dengan hati-hati aku berucap “menurutmu apa yang menyebabkan kegagalanmu?". Aku menggenggam tanganku pertanda ada kecemasan dalam diriku.Aku takut pertanyaanku terlalu berat untuk dijawab.Kegagalan, seberapapun itu adalah sebuah pengalaman berharga tetap saja tidak mudah untuk dibagikan.Beberapa orang memilih menutupinya.
Ia menaruh botol air mineral setelah kembali meneguknya. Kemudian meletakkan kaki kanan di atas lutut kirinya, memperbaiki cara duduknya. Lalu menyedekapkan tangannya dan menggigit bibirnya sambil menatapku tajam. Sebuah gestur yang tidak kudugaia perlihatkan. Aku merasa telah mengganggu pertahanannya.
"Aku sedang belajar untuk tidak memberikan alasan pada kegagalan yang kudapat. Tidak menyalahkan siapapun dalam keadaan bagaimanapun." Ia menjeda kalimatnya.Aku merasakan nada ketegasannya. 
"Lalu menurutmu apa yang paling berat dari perjuangan itu?"Pertanyaan itu keluar dengan mudahnya. Aku merutuki diriku sendiri.
"Hal yang paling berat dari sebuah perjuangan adalah mengabarkan kegagalan kepada mereka yang mendukung dan mencintai kita dengan sepenuh hati”lanjutnya.
“Aku tahu rasanya … aku mengalaminya berkali-kali” kataku mencoba menyamakan rasa.
Ia tersenyum dan mengalihkan dekapan tangannya ke lututnya. Aku menangkapnya sebagai pertanda ia telah melonggarkan sistem pertahanannya.
“Jadi … mari berjuang agar kali ini kita mengabarkan keberhasilan pada mereka” katanya dengan senyum lebarnya.Aku merasakan getaran semangat darinya.Kelegaan seperti meletup dari dadaku, “Tentu.Semoga” jawabku lega.
“Oh ya … terimakasih banyak untuk biskuit coklatnya” ia berkata sambil memasukkan bungkus biskuit itu ke dalam tasnya. Aku mengartikan itu sebagai caranya menjaga kebersihan sekelilingnya.
“Kamu menghabiskannya tanpa sisa” gerutuku yang tak perlu.Pecah tawanya.Aku suka.
“Hmmm … apa yang bisa kuberikan padamu ya …” balasnya sambil mencari-cari sesuatu.
“Eh … aku bercanda.Terimakasih sudah membantuku menghabiskannya” jelasku mencoba menghentikannya.
“Baiklah … kurasa tidak ada salahnya sesekali kamu membaca cerita fiksi” ia lalu menyodorkan buku Aeosop yang di awal perjalanan sempat kami bahas bersama.
“Bukankah kamu belum selesai membacanya?”
“Kamu bisa membantuku menyelesaikannya” balasnya dengan senyum khasnya.
Kuterima buku itu lalu kumasukkan tasku, ”terimakasih” balasku.
Terdengar suara pemberitahuan bahwa stasiun tujuan kami telah dekat.Para penumpang diminta mengecek barang bawaan.Kemudian kamipun melakukannya.
“Jangan sampai ada yang tertinggal” katanya mengingatkan.
“Kamu juga” balasku padanya.
Lalu kami berjalan menuju pintu keluar.Kami berdiri sambil menyenderkan badan kami ke kursi penumpang. Di depan pintu kereta telah banyak penumpang lain yang mengantri untuk keluar. Kami berjalan keluar pelan-pelan.
Stasiun telah diramaikan oleh para penumpang dan pengantar.Para petugas juga terlihat sibuk dengan tugas masing-masing.Beberapa porter mendekati penumpang menawarkan jasa mereka.
“Aku mencium aroma perpisahan …” kataku sambil berjalan.
“Dan juga pertemuan …” katanya menambahkan.
Aku tertawa.Membenarkannya.
“Mereka memang sepaket, tidak bisa dipisahkan. Tapi beda rasa. Pertemuan identik dengan kebahagiaan sedangkan perpisahan identik dengan kesedihan” jelasku.
“Jika kita begitu mengharapkan adanya pertemuan maka seharusnya kita juga menyiapkan hati untuk perpisahan sih” katanya sambil melihat lurus ke depan. Kata-katanya menghentakku.Langkahku terhenti. Aku merasa ia meluruskan cara berfikirku. Ia lalu ikut berhenti dan menghadapkan badannya ke arahku sambil berkata, “ … kan sepaket” sambil memasang muka sedikit menyebalkan. Aku reflek memukul lengannya.Sejenak aku menyadari kekeliruan dari tindakanku.
“Aku ke minimarket sebentar” katanya mengalihkan kecanggungan yang tidak sengaja tercipta. Aku menunggunya berdiri di samping minimarket.
 Tak berapa lama ia keluar membawa sebotol air mineral di tangannya dan juga …
“Ini …” ia memberiku sebungkus biskuit coklat yang sama dengan yang kami makan di kereta.
“Ya Tuhan! Aku beneran bercanda lho tadi” melihat ekspresiku ia malah tertawa.
“Aku juga tidak sedang bercanda.Sudah kuniatkan untuk menggantinya saat di kereta tadi.Kata ibu, niat baik harus disegerakan.”Kata-katanya sungguh terdengar menghangatkan.
“Wah … aku untung banyak nih. Dapat buku dan biskuit coklat baru.Aku sekarang membuktikan kata-kata ajaib itu … satu kebaikan akan dibalas dengan kebaikan yang berlipat-lipat.”
Pecah tawanya untuk ke dua kalinya.
Kami berjalan ke arah pintu keluar stasiun.Kami sepakat untuk memakai transportasi online.Sambil berjalan kami memesannya.Kami harus berjalan sedikit jauh dari stasiun dan lalu berhenti di tempat yang sudah memenuhi standar penjemputan.
“Terimakasih sudah menjadi teman perjalananku kali ini” katanya membuka momen perpisahan.
“Sama.Aku juga. Mungkin lain kali kita bisa bertemu lagi" jawabku.
Ia terdiam sejenak. Aku mengoreksi kalimatku.Mungkin ada yang keliru.
“Aku tidak ingin menjanjikan pertemuan.Mungkin bisa kita semogakan” jawabnya dengan senyuman.
Lalu bisikan itu terdengar lagi “Ia lelaki yang tidak mudah berjanji.Ia menjaga setiap apa yang dikatakannya.”
Sebuah mobil mendekat ke arah kami. Seseorang lalu keluar dari dalam mobil itu dan berkata dengan sedikit lantang “Mas Awan ya …?”
Ia lelaki yang selama 10 jam menjadi teman perjalananku itu lalu menoleh, menjawab “iya” disertai anggukan ramah.
“Semoga berhasil ya” katanya menutup pertemuan kami.Ia pun berjalan sambil melambaikan tangan dan lalu membalikkan badan. Berjalan menjauh dariku selangkah demi selangkah namun juga berarti mendekati impiannya.Aku menatap langit Jakarta yang menjadi saksi pertemuan sekaligus perpisahan yang singkat kami.
Mobil yang kupesan datang.Aku berjalan mendekatinya dan membuka pintunya.Si drivermenyapaku, “Kak Aira ya?”
“Iya” jawabku singkat.
Aku lalu duduk dan melihat arah jalanan Jakarta. Riuh sama seperti pertama kali aku melihatnya. Aku menyenderkan badanku dan menutup mataku.Sedikit lelah terasa.
Dari perbedaan yang ada, beberapa persamaan melintas di fikiranku tentang kami berdua.Kami memiliki tujuan yang sama dan kami sama-sama belum mau menyerah. Semoga kami dipertemukan kembali entah di belahan bumiNya yang mana.Suatu saat nanti.Di mana kami bisa berbagi tentang jejak perjuangan kami.Aku mengharapkan sebuah pertemuan.
“Ya Tuhan … semoga ia meminta hal yang sama padaMu tentangku” lirihku merajuk pada Tuhanku, tentangmu.


Begitulah kisah perjalanan kami, sementara ini.

Comments

Popular posts from this blog

Teman Duduk

Kupu-Kupu

Hujanku