Teman Seperjalanan

Sebuah seri cerita yang kutulis untuk mengikuti event menulis dari Bentang Pustaka bertajuk 14 Menulis Harapan. 

Hari itu, aku sedang menunggu keberangkatan keretaku. Aku duduk di ruang tunggu di deretan kursi paling depan. Karena semalaman menyelesaikan kerjaan yang diburu waktu, aku merasa mengantuk sekali. Aku memegang tiket kereta di tangan kananku. Sementara tangan kiriku memegang backpack yang setia menemaniku.
Tiba-tiba, aku terbangun. Seseorang menggenggam tangan kananku dan kamipun berlari. Setengah sadar, aku mencoba mengikuti gerak langkah kakinya. Pelan-pelan aku mulai mengerti apa yang terjadi. Kami sedang mengejar kereta bersama. Aku mulai dapat mendengar nafasku sendiri. Aku melihat ke arahnya, melihatnya tersenyum sambil berlari. Ia menggenggam tanganku erat sekali. Aku melihat gerak kakinya, mencoba mengimbangi langkahnya.
Akhirnya kami berhasil masuk ke dalam kereta. Kami berjalan menuju gerbong lalu berhenti, berdiri, kami mencoba mengatur nafas kami. Ia lalu menyadari, “eh … maaf, tadi aku reflek menarikmu berlari karena aku melihat jadwal keretamu sama denganku.” Aku tertegun sejenak sebelum menjawabnya, “tidak apa-apa. Terimakasih.” Aku merasa ada yang berbisik padaku “Ia, lelaki yang tindakannya lebih cepat dari kata-katanya.”
            “Anyway … di seat berapa kamu?” tanyanya padaku.
“A17, kamu?” jawabku sambil mengecek tiketku.
“Wah … aku duduk di depanmu” katanya sambil setengah tertawa.
Kebetulan macam apa ini? Aku tidak mengerti. Kamipun berjalan mencari tempat duduk kami. Tak berapa lama kami menemukannya. Aku mengatur dudukku. Perjalanan kali ini lumayan panjang. Sekitar 10 jam. Ia pun mulai merapikan tasnya. Lalu duduk tepat di depanku.
“Kenapa ke Jakarta?” tanyanya membuka percakapan setelah kami duduk nyaman sambil melihat pemandangan sesekali. Tidak ada teman duduk di samping kami. Gerbong kami tidak ramai dengan penumpang. Hanya ada beberapa dan mereka duduk agak jauh dengan kami.
“Ada jadwal wawancara” jawabku setengah hati. Aku berharap ia tidak bertanya lagi. Tiba-tiba saja ia tertawa lalu bertepuk tangan dan berkata “Sama. Jangan bilang wawancara beasiswa.” Ia berkata dengan semangatnya. Matanya seolah berkata “dugaanku benar kan.” Akupun mengangguk sambil tersenyum, mengiyakan.
 “Sudah berapa kali?” tanyaku penasaran. Entahlah, aku merasa presentase orang yang  berhasil mendapat beasiswa dengan sekali coba sangat kecil. Aku berasumsi bahwa ini bukan pengalamannya yang pertama. “Ke 3” jawabnya sambil menunjukkan 3 jarinya. “Kamu?” balasnya bertanya. Aku tertawa sebelum menjawabnya “ke 4” jawabku agak malu.
2 jam perjalanan pertama kami mengisinya dengan obrolan seputar usaha kami dalam melamar beasiswa. Meskipun aku sering membaca banyak tips dan kisah mereka yang berhasil maupun gagal mendapatkan beasiswa, mendengar kisah itu langsung dari pelakunya sungguh terdengar nyata, semacam ada perasaan akupun merasakannya.  Menyadari adanya harapan bahwa aku tidak sedang berjuang sendiri.

Comments

Popular posts from this blog

Teman Duduk

Kupu-Kupu

Hujanku