Teman Seperjalanan
2 jam
perjalanan ke dua kami mengobrol tentang hobi.
“Aku senang memburu buku lama” katanya penuh semangat.
“Kenapa?” tanyaku ingin tahu.
“Karena aku merasa ada keunikan di dalamnya. Apalagi
kalau buku itu sudah tidak diterbitkan kembali. Semacam barang antik namun
tidak begitu mahal harganya.Beberapawaktu lalu aku baru membelibuku
lama."Ialalu menunjukkan buku kecil berjudul Aeosop. “Ini aku beli
seharga Rp. 10.000,- Meskipun ini bekas tapi aku rasa it’s worth it.
Karena berisi banyak cerita dan lagi banyak pesan moral di dalamnya.Dengan
membaca aku merasa bisa menembus waktu. Memasuki dunia yang berbeda. Imajinasi
manusia seperti tiada batas. Tuhan selalu menawarkan sesuatu yang baru untuk
dijelajahi dan dipelajari" jelasnya dengan menghayati. Entahlah,mendengar
ia bercerita tentang hobinya membuatku merasa ikut terbawa bahagia. Akuseperti
ikut masukdalam dunianya.Lalu kudengar lagi bisikan “ia adalah lelaki yang tahu apa yang ia suka dan menikmati apa yang
dilakukannya.”
“Aku kadang juga membaca … “ kataku mencoba
mengimbangi apa yang dia bagi. “ … tapi mungkin tidak segila kamu. Aku hanya
membaca buku-buku yang bercerita tentang kisah nyata semacam biografi. Dan
kadang-kadang novel adaptasi dari realita."
“Kenapa cerita fiksi tidak menarik perhatianmu?”
tanyanya antusias.
“Mungkin karena menurutku mereka tidak realistis. Dan
atau karena imajinasiku tidak cukup bagus” jelasku.
“Ehm … bisa diterima” jawabnya singkat.Selanjutnya ia
berkata, "memiliki hobi membantu kita mengenali diri sendiri. Seperti
menghasilkan energi positif yang membuat kita berharap akan ada hari esok di
mana kita bisa melakukannya lagi, lagi, dan lagi."
"Aku setuju. Mengetahui apa yang kita sukai
menjadikan hidup kita lebih berarti"kataku menambahkan.
“Lalu … adakah hal
lain yang menarik perhatianmu?”. Ia bertanya dengan ekspresi seolah
sedang bertanya pada anak-anak berumur 5 tahun. Itu membuatku sedikit geli.
“Aku suka
menonton film dokumenter dan juga travel show. Aku merasa bisa mendapat banyakl
hal baru dari keduanya dan juga …” belum sempat aku selesai berbicara, ia
menjentikkan jarinya dan berkata “itu nyata …” sambungnya mengakhiri obrolan
kami tentang hobi. Aku merasa ia mulai memahami jalan fikirku.Meski kami
menikmati dunia dengan cara yang berbeda,aku menikmatinya.Ini aneh. Aku merasa
ada yang aneh dalam perjalananku kali ini.
Comments
Post a Comment