Teman Seperjalanan
2 jam
perjalanan ke tiga, kami berbicara tentang cara kami hidup atau orang-orang
biasa menyebutnya, pekerjaan.
“Bagaimana
keseharianmu?” tanyaku mengalihkan pembicaraan kami tentang hobi. Akhir-akhir
ini aku lebih sering menggunakan pertanyaan ini untuk mengetahui pekerjaan
seseorang. Aku merasa dengan bertanya dengan memakai pertanyaan “apa
pekerjaanmu?” terdengar kasar bagiku. Mungkin karena aku sudah merasakan
bagaimana rasanya tidak bekerja, sedang dalam situasi memutuskan keluar kerja, dan
atau sedang tidak ingin bekerja. Sungguh itu perasaan yang tidak semua orang
bisa memahami meski kadang kita mencoba jelaskan. Meskipun tidak cukup penting
untuk dijelaskan juga, sebenarnya.
“Aku bekerja di salah satu penerbitan. Semacam
membantu penulis mengecek kosa kata atau mengomentari jalan ceritanya. Haha …”
jawabnya dengan bercanda.
“Edior?”
sergapku. Ia pun mengangguk membenarkan. “Itu cocok dengan hobimu yang berburu
buku” kataku memujinya.
“Banyak orang bilang begitu. Tapi pekerjaan ini tidak
semudah yang aku bayangkan sebelumnya” balasnya sambil mengerutkan dahinya.
“Kenapa?”
tanyaku sangat ingin tahu.
“Sebuah buku
melalui proses panjang sebelum sampai di tangan pembaca, ..."Ia lalu
menjelaskan proses itu secara rinci.Ia bercerita seakan-akan ia hidup di dalam
kerjaannya."Tapi dari semua proses itu ada yang paling berat ..."ia
menjeda ceritanya.
"Apa itu?"tanyakumenanggapi.
"Terkadang ada juga konflik batin di dalamnya.
Semacam kita harus dipaksa memakan makanan yang tidak kita suka. Itu terjadi
jika kita harus melakukan proses editing pada cerita yang tidak kita suka."
“Bukankah semua pekerjaan juga begitu? Maksudku ada
kalanya kita dihadapkan pada hal-hal yang tidak kita suka” jelasku.
“Betul. Tapi
setiap orang punya tingkat toleransi yang berbeda. Semacam ketahanan kita dalam
menghadapi sesuatu. Mengerjakan hal-hal yang menyelisihi hati terasa berat bagiku.
Aku merasa tingkat toleransiku terhadap itu sangat … “ ia berkata sambil
membuat huruf c kecil dengan jarinya.
“Mungkin karena
kau idealis” kataku tanpa ragu. Sesaat kemudian aku merasa menjadi orang palingjudgemental
sedunia. Aku menyesalinya. Namun ia malah tertawa.
“Kata bosku
begitu … katanya aku harus berubah jika tidak ingin punah” ia berkata sambil
tertawa. Aku tidak mengerti letak lucunya, alhasil akupun hanya tersenyum
canggung.
"Menjadi idealis cukup keren tapi itu menyiksamu”
kataku sok tahu.
“Haha … kurang
lebih begitu" jawabnya setuju.
”Kamipun tertawa bersama. Kali ini aku merasa satu
frekuensi dengannya. Lalu bisikan itu datang lagi “Ia adalah lelaki yang selalu berusaha memenangkan apa yang diyakininya.”
Sejenak … aku melihat caranya tertawa.
"Lalu apa yang membuatmu masih bertahan di tempat
kerjamu?" tanyaku melanjutkan.
"Kurasa aku dan bosku hanya berbeda selera
tentang buku-buku yang harus diseleksi dalam proses editing. Selebihnya kami
masih memiliki visi yang sama. Dan aku suka etika mereka dalam bekerja.
Sepertinya itu yang menguatkanku untuk bertahan sejauh ini. Ah ... bosku adalah
orang pertama yang mendukungku untuk mencari beasiswa. Ia selalu mendukung
karyawannya untuk berkembang."
"Kamu cukup beruntung memiliki lingkungan yang
mendukung" komentarku."
“Bagaimana denganmu?” ia bertanya, memberi kesempatan
padaku untuk berbagi tentang keseharianku.
“Aku? ehm …
tidak banyak yang kulakukan. Haha … aku menjadi penerjemah lepas bahasa
Inggris-Indonesia. Lebih banyak waktu kuhabiskan di rumah. Sebelumnya aku juga
bekerja di salah satu perusahaan tapi aku merasa aku tidak cukup bisa fokus
memerjuangkan beasiswaku, jadi aku memutuskan keluar tahun lalu.
“Jadi … mendapatkan beasiswa adalah mimpimu?” tanyanya
dengan muka serius.
“Iya. Salah
satunya” jawabku dengan penuh keyakinan.
"Setiap orang berhak memiliki mimpi tanpa perlu
dihakimi. Aku merasa setiap mereka yang memiliki mimpi memiliki semangat hidup
yang tinggi. Bagaikan pejuang yang selalu memiliki harapan untuk menang"
katanya berfilosofi.
"Wah, aku seperti sedang kuliah 4 SKS dengan
editor ternama" godaku padanya.Diapun tertawa dan berkata
"seberapapun hebatnya editor, pembaca akan lebih banyak mengingat penulis.
Tapi aku bersyukur karena itu" kelakarnya.
"Mengetahui proses terciptanya sesuatu menjadikan
kita lebih menghargai apapun itu. Terimakasih sudah berbagi ilmu." Aku
menyodorkan sebuah biskuit coklat favoritku. Kamimenutup obrolan tentang
keseharian kamidengan memakan biskuit coklat bersama.
Comments
Post a Comment