Teman Seperjalanan
2 Jam perjalanan ke
empat, kami berbagi cerita tentang keluarga kami.
Di
sela-sela kami makan biskuit bersama terdengar bunyi nada dering di sebuah
ponsel. Seseorang meneleponnya.Mereka terdengar mengobrol dengan seru.Sesaat
aku merasa cemburu.Aku merasa sudah lama tidak mendengar obrolan semacam
itu.Aku menikmati pemandangan sebagai obat rinduku.
“Beberapa
jam lagi sampai” katanya sambil memasukkan ponsel ke saku kemejanya.Aku
mengangguk tanda setuju.Sepertinya ia melihat keanehan pada raut wajahku lalu ia
bertanya lagi,”ada keluarga di Jakarta?”
“Tidak”
jawabku singkat sambil mengedarkan pandanganku.
“Ahhh…baru
beberapa jam aku pergi tapi aku sudah rindu masakan ibu” katanya sambil
memandang ke arah jendela, sementara tangan kirinya mengusap perutnya.
“Tadi …
ibu?” tanyaku ragu.Ia lalu mengangguk dan berkata “wanita paling cerewet
sedunia” sambil menyipitkan matanya.
“Suatu
saat kamu akan merindukan kecerewetannya itu” balasku.
“Saat
remaja cerewatnya ibu terasa menjengkelkan, namun saat dewasa aku menyadari
bahwa cerewetnya adalah sebuah kebaikan” jelasnya dengan pelan dan mengambil
nafas kemudian.Aku merasa ada sesuatu yang membebaninya.
“Bersyukurlah
… karena kamu masih bisa mendengar kecerewetannya” kataku menasehati dengan
canda.“Cerewetnya ibu adalah sesuatu yang paling aku rindukan dalam
hidupku.Sudah lama akutidak mendengar itu” kataku sambil mengalihkan
pandanganku.
“Jadi
kau hidup bersama ayah?” tanyanya padaku menangkap makna dari sebalik kata
rindu yang kuucapkan.
“Iya,
mungkin itu sebabnya aku agak tegas sebagai wanita” jawabku dengan canda.
“Hmmm …
aku tumbuh besar dengan ibu, jadi aku mewarisi kelembutannya … begitu?” katanya
sambil memandangku ragu.”
“Begitu
hasil yang didapat dalam sebuah penelitian …” jawabku dengan tawa.Memecah
suasana melankolia yang tercipta.
“Ibuku
dan ayahku berpisah saat aku remaja.Saat aku lagi butuh-butuhnyamereka”
ceritanya dengan nada canda, seolah itu adalah kejadian yang biasa saja.Aku
dibesarkan dalam sebuah lingkungan yang kebanyakan keluarga memiliki kehidupan rumah
tangga yang normal. Perceraian adalah sesuatu yang tabu untuk dibicarakan.
Bahkan beberapa diantaranya memutuskan tetap bersama meski lebih sering
kudengar mereka bertengkar.Meski aku mearasa tidak mengerti konsep cinta yang
mereka punya, tapi aku merasa tidak punya hak mengomentari kehidupan mereka.
Ia lalu
menatapku sejenak dan berkata “tidak perlu melankolis begitu” lanjutnya dengan
tawa. Ia lalu melanjutkan ceritanya “aku merasa itu hal biasa. Saat mereka
bersama aku melihat tidak ada ketenangan dalam kehidupan kami.Jadi ketika
mereka memutuskan berpisah aku mengharagainya. Mereka berhak mendapatkan
ketenangan dengan caratidak bersama.”
Aku
melihat ada ketenangan di matanya saat bercerita.Aku merasa keaadan telah
mendewasakannya.Membutanya bijaksana.
“Ketenangan?Bukan
kebahagiaan?” tanyaku menekankan.
“Kecenderungan.Ketenangan.Kufikir
itu yang disampaikan Tuhan tentang tujuan pernikahan” jawabnya dengan
santai.Aku merasa telah menemukan sesuatu.Jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku.
“Tidak
semua orang hidup dengan kondisi normal.Maksudku memiliki kehidupan normal”
entah kenapa aku menjadi sedikit canggung menanggapi ceritanya.Aku takut
melampui batas sebagai lawan bicara.
“Iya.Kurasa
itu keuntungan menjadi manusia.Tidak sempurna” katanya sambil membuka botol air
mineral yang sedari tadi digenggamnya.
“Keuntungan?”
kataku dengan penuh tanya.
“Iya …
kita bisa lebih kuat dengan ketidaksempurnaan.”Aku diam tidak menanggapi.
Sepertinya ia membaca kebingungan di raut wajahku.
“Maksudku,
menyadari bahwa kita tidak sempurna menjadikan kita lebih mudah mensyukuri apa
yang kita punya dan menerima kekurangan sesama.”Kemudian ia meneguk air
mineralnya.
“Bersyukur
… itu yang selalu ibu nasehatkan padaku.”
Ia
tersenyum. Jeda terjadi kemudian. Aku merasa ia memberikan ruang padaku untuk
melanjutkan cerita tanpa paksaan.
“Ibuku
meninggal saat ulang tahunku di umur 8 tahun.Aku memintanya menjemputku pulang
sekolah karena aku merasa itu hari yang istimewa. Padahal biasanya aku pulang
bersama teman-teman … “ aku tak sanggup melanjutkan ceritaku. Kualihkan
pandangku untuk menutupi kegelisahanku.
“Terkadang
… Tuhan bekerja dengan cara yang tidak kita mengerti tapi meminta kita untuk
menerima” katanya dengan nada lembut.
Mendengar
itu ada yang bergemuruh dalam dadaku.Pandangan kami bertemu kemudian.Mataku
mulai memanas.Hatiku merasakan ketenangan. Aku menangkap ada kekuatan pada
kepasrahan yang ia nasehatkan. Ada harapan munculnya keikhlasan yang sudah lama
kugantungkan.
“Ia adalah lelaki yang mampu menghadirkan ketenangan
dalam setiap keadaan” bisikan
itu datang untuk ke empat kali.
Comments
Post a Comment